harus berapa kali.
aku jatuh lagi.
hingga aku bisa mati.
ditelan bumi.
musnah!!!
mampus!!!
aku lelah berteriak.
mitokondria di tubuh ini sudah mati.
hemoglobin di darah ini sudah berhenti.
mata ini tertutup, terkunci.
begitu pula hati, dan hati.
aku lelah, retak.
waktunya tidur.
tapi aku tak tahu kapan HARUS, AKAN, bahkan BISA bangun lagi.
bondanrastika@24/5/07 - 00:15 AM [sedang TIDAK ingin bercinta]
Thursday, May 24, 2007
Wednesday, May 23, 2007
not in love
i'm not in love
i don't wanna fall in love
i don't wanna talk about love
i don't wanna hear you cryin 'bout love
cos i'm not in love
so tired of being in love
i don't think i'm ready for love
you'll never understand my love
monday morning
i woke up right after the ring of my phone
you came right in
just when the rain starts to pour on my home
tiny spaces
i threw myself inside the room for squares
funny faces
there's more to think than others have to share
so you better pack your bag
cos my heart's already cracked
don't you dare to come back
cos i've told you oh so many times that
i'm not in love
i don't wanna fall in love
i don't wanna talk about love
i don't wanna hear you cryin 'bout love
cos i'm not in love
so tired of being in love
i don't think i'm ready for love
you'll never understand my love
[Bondan, Rabu 23 Mei 2007, 11:11 AM, a song for Daphne Finnigan]
song available for download here
i don't wanna fall in love
i don't wanna talk about love
i don't wanna hear you cryin 'bout love
cos i'm not in love
so tired of being in love
i don't think i'm ready for love
you'll never understand my love
monday morning
i woke up right after the ring of my phone
you came right in
just when the rain starts to pour on my home
tiny spaces
i threw myself inside the room for squares
funny faces
there's more to think than others have to share
so you better pack your bag
cos my heart's already cracked
don't you dare to come back
cos i've told you oh so many times that
i'm not in love
i don't wanna fall in love
i don't wanna talk about love
i don't wanna hear you cryin 'bout love
cos i'm not in love
so tired of being in love
i don't think i'm ready for love
you'll never understand my love
[Bondan, Rabu 23 Mei 2007, 11:11 AM, a song for Daphne Finnigan]
song available for download here
Monday, May 14, 2007
you never asked | part seven
aku berjalan keluar coffee shop. sudah jam 4 sore. lebih baik aku buru2 pergi ke rumah Mr. & Mrs Ashcroft. lumayan juga sih makan malam gratis. siapa juga yang mau nolak. sepertinya jalan kaki dari sini ke rumah itu cukup 1 jam. jadi aku bisa sampai disana pas jam 5 sore, pikirku. hmm.. kira2 si Danisha mau minta bantuin apa ya? aku jadi ingat, dulu aku dan Daryl pernah jalan kaki dari kampus sampai rumahnya. gara2 mobil warisannya itu mogok di parkiran kampus. dan Honda Civic tahun 1993 itu juga nyaris bikin kita nginep di kampus. waktu itu Daryl sangat panik, dan kalo Daryl lagi panik mukanya akan terlihat sangat bodoh. setelah 3 jam mengutak atik mesin mobilnya, ya dengan ke-sok-tahuan Daryl tentunya. (orang IT kok nyoba2 jadi orang bengkel.) akhirnya dia menyerah dan kita berjalan kaki pulang ke rumahnya. soalnya waktu itu aku masih menumpang di rumah Mr. & Mrs Ashcroft. kalau tidak salah beberapa bulan yang lalu akhirnya mobil itu dijual. padahal interior dan eksteriornya lumayan rapi, untuk ukuran mobil yang sudah berumur hampir 15 tahun. warnanya putih dengan strip hitam di tengah2 body nya. persis seperti mobil yang ada di pinggir jalan itu. eh? kok mobilnya berasap? aku mendekati mobil itu, aku tak bisa melawan keingintahuanku akan apa yang sedang terjadi. tunggu dulu.. mobil Daryl yang dulu ada stiker MIT nya di bagian kaca belakang.. hmm? benar ini stiker MIT.. lalu siapa yang mengendarai mobil ini? yang pasti bukan Daryl ataupun Mr. Ashcroft. tidak mungkin. kalaupun benar ini mobilnya Daryl yang dulu, mobil ini sudah dijual ke orang lain. aku melihat ke bagian kursi pengemudi. hmm.. kosong. tidak ada orangnya. hmm? sepertinya aku mengenali tas itu.. oh my god! itu kan tasnya Amelie! aku yakin sekali karena tadi dia membawa tas itu. spontan aku langsung menelpon si pemilik mobil ini. ya, Daryl.
"hello, D. did you remember your civic?" tanyaku.
"yeah, but what's with that question all of a sudden?" jawabnya agak bingung.
"cause i saw it. in fact, i'm looking at it right now." jelasku.
"yeah, so?" jawabnya, masih terdengar agak bingung.
"it's wrecked. looked like it went to an accident just now, the engine was still covered in smokes." kataku.
"WHAT!! did you said it was wrecked!?" jawabnya, aku harus menjauhkan telepon itu dari telingaku, hampir saja telingaku pecah mendengarnya.
"yup, no doubt about it. and one thing that's been bothering me." kataku.
"well, what is it?" tanya Daryl.
"Amelie's purse was inside. that's one more last thing i'd be doubting." jawabku.
"well, you see. when my dad decided that we should sold the car, Amelie somehow heard it. and then she bought it." Daryl menjelaskan.
"so it IS Amelie's car that i'm looking at?" aku memastikan.
"yes, no doubt about it as well." jawabnya. suaranya terdengar yakin sekali.
"and why in the world you never told this to me?" balasku.
"i just thought.. you never asked.." jawabnya singkat.
"tch. i'm going to hang up now, think you had an idea where she could have been brought to? a hospital or medical center maybe?" tanyaku.
"hmm.. where are you now?" balasnya.
"just passed the Vassar St. junction." kataku.
"have you tried going to MIT Medical Center? it's near where you are, why don't you try to look for it. oh, and.. i'll be there as soon as i can too." jawabnya.
"great. i completely forgot about that building. thanks D." kataku.
"i'll look out for the car, you just worry on Amelie, 'kay?"
"ten-four. roger that. let's mosey."
"ten-four? lets mosey? what the? [phone hang up] argh, dammit you B. yo Sean, trouble big time. we gotta run." kata Daryl pada Sean.
"aye cap. where to?" tanyanya.
"Vassar St. junction" jawab Daryl.
"right behind ya." jawab Sean singkat.
oh my god. aku tak bisa berhenti membayangkan apa yang terjadi pada Amelie. kalau dilihat dari kerusakan yang terjadi pada mobil itu, bagian pengemudinya memang tidak seberapa parah, tapi bagian kanannya seperti habis diterjang truk yg besar sekali.. mudah2an kejadiannya bukan seperti itu, menyeramkan sekali.. sambil berjalan menyusuri Vassar St. menuju MIT Medical Center aku mengetik sms untuk Mrs. Ashcroft. Sorry ya Danisha, aku ngga bisa bantuin kamu malam ini.. dan aku juga harus skip tawaran dinnernya. duh. padahal kantong lagi kosong, kan lumayan, pikirku dalam hati.
Hi, Mrs. Ashcroft, first of all i'm terribly sorry. i'm afraid i can't come to your house tonight. please tell Danisha too, i'm sorry. there's been an urgent matter. i'm sure you knew Amelie Ashcroft. well, i just met her this morning, and unfortunately she had just ran into an accident. i haven't know all the details yet, but i'm searching for her right now. i'm going to MIT Medical Center. Daryl and Sean are on this too. they're going to Vassar St. junction to look after the car. that would be all for this matter. i promise i'll make it up later on another day. send my best regards to Mr. Ashcroft and Danisha.
aku mengetik sms sambil jalan, dan kadang2 berlari kecil. jadi yah.. maklum aku jarang sekali melihat ke depan.. sesekali aku tak sengaja menabrak orang yang ada di depanku, dan mereka berteriak "hey! watch where you're going!" sementara itu aku terus berjalan menuju MIT Medical Center. ok, sms sent. dan pas sekali aku sampai di MIT Medical Center. sepertinya aku harus menyeberang jalan. tanpa berpikir panjang aku menyeberang jalan. di tengah2 penyebranganku, terdengar suara ban mobil mencicit. ok, err.. suaranya semakin dekat.. OH MY GOD! aku melihat ke sebelah kananku, dan sepertinya aku tidak sempat menghindar. dammit. apa aku juga akan mengalami kecelakaan? mobil itu semakin dekat, semakin dekat, bunyi remnya semakin kencang. sampai akhirnya bunyi itu berhenti tepat di depan kakiku. bempernya nyaris bersentuhan dengan celana jeans yang kupakai. aku sempat terdiam beberapa saat, begitu pula dengan pengendara mobil itu. kemudian aku memberanikan diri untuk menghampirinya. ternyata seorang perempuan. dan dari penampilannya, sepertinya umurnya tidak jauh beda denganku.
"listen, i'm very sorry, but i'm in a REAL hurry. if you want anything, you can find me here." kataku sambil menyerahkan kartu namaku kepada perempuan itu.
kemudian aku melanjutkan berjalan ke MIT Medical Center. hmm.. let's see.. emergency.. ah, ini dia.. harusnya ada lobby di sekitar sini. setelah berjalan sedikit aku menemukan lobby bagian emergency.
"excuse me, how may i help you?" kata suster yg sedang jaga.
"right, umm, i am looking for a person named Amelie, Amelie Ashcroft, i believe she got an accident just not long ago. i'm not sure that she was taken here though, so basicly i just want to check, because this is the nearest place that she could have been brought to.." jelasku.
"please hold on a moment." kata suster itu.
kemudian si suster itu menyibukkan dirinya dengan telepon. entah siapa yang dihubunginya, tapi aku yakin dia sedang membantuku mencari Amelie. oh shit. by the way, disini dinginnya minta ampun. ah, aku lupa membawa jaketku. sepertinya tertinggal di cafe tadi. ugh. aku hanya bisa mengusap2 lenganku sambil melingkarkannya di depan dadaku untuk meng-counter dinginnya AC di MIT Medical Center. dammit. kenapa sih mereka selalu pasang AC dingin2. dasar bule.
"well, you were lucky, umm sort of.. in any case, she was indeed brought to here." kata si suster jaga itu.
"really? so where is she now?" tanyaku.
"i believe she's still in the emergency room. i'm sorry i don't have any information on which room she might be, but you can wait for her at the waiting room. just past this corridor, turn right, and you'll see a waiting room there." jelas suster itu.
"thank you. thank you very much." kataku.
"your welcome." kata si suster.
aku berjalan menyusuri koridor, kemudian menemukan ruang tunggu yang dikatakan oleh si suster tadi. ok, sekarang waktunya mencari dimana Amelie. satu persatu aku mengintip ke jendela kamar, berharap bisa menemukan Amelie di salah satu kamar itu. dari jendela kamar pertama terlihat seorang laki2, sepertinya sedang bersama anaknya. hmm bukan. aku melanjutkan ke jendela kamar kedua. dammit. tirainya tertutup. sial. aku harap itu bukan Amelie. karena kalau tirainya tertutup pasti sesuatu yang gawat sedang terjadi di kamar itu. hey, makanya disini namanya Emergency Room kan? hmmmh.. aku meninggalkan jendela kamar kedua, untuk saat ini, mungkin nanti akan kulihat lagi. lanjut ke jendela kamar ketiga. ada seorang perempuan disana, hmm.. hanya terlihat dari belakang. sepertinya sedang duduk di atas kasur. tak ada dokter disana, jadi mungkin perempuan ini sedang menunggu dokternya. hmm? aku sempat berarap bahwa perempuan itu adalah Amelie. bukan hanya aku menemukan dia, tapi juga berarti tidak ada cedera serius yang dialaminya. buktinya sekarang saja dia sudah bisa duduk2 santai di atas kasur sambil menunggu dokternya. oh, dokternya masuk ke kamar. ah, dia berpaling ke arah sini.. aaahhh.. bukan Amelie ternyata. aku tak bisa menahan kekecewaanku. apalagi setelah melihat kamar ke empat, yang tirainya juga ditutup. mungkin saat ini aku hanya bisa menunggu di waiting room ini. semoga saja tidak terjadi apa2 pada Amelie. well, ngga mungkin juga sih, ngga terjadi apa2. at least kalau memang terjadi apa2, mudah2an tidak terlalu parah.
come to think about it.. untung barusan aku juga ngga kenapa2. hampir saja aku dibawa kemari, kalau mobil tadi itu menabrakku, sudah pasti aku akan dibawa juga kemari. ngga kebayang deh kalau aku juga sampai dibawa kesini. aku melihat sekeliling, tentunya masih sambil mengusap2 lenganku, dinginnya masih menusuk sampai tulang. pantas saja, ACnya ada dimana2. no wonder it's so cold here. hmm? what's that? aku melihat peringatan, gambarnya seperti handphone dan ada tanda silang nya, kalau di Indonesia, seperti tanda dilarang parkir, tapi huruf P nya diganti gambar handphone. oh iya, aku mengeluarkan handphone ku. lebih baik aku mengganti profile nya jadi silent, sebelum dia berdering dan aku dikeluarkan dari ruangan ini karena membuat onar, hahaha. lho? ternyata profile nya sudah silent. hey. 2 missed calls? pantas aku tak sadar.. karena sejak tadi handphoneku sudah aku silent. ah iya. aku ingat, aku membuatnya silent saat bertemu dengan Amelie di cafe, pagi ini. ok, kita lihat siapa yang miss call. 1 dari Daryl. ah, kalau Daryl sih, nanti aja. paling juga nanti dia telepon duluan. 1 lagi? hmm? sepertinya local number, bukan dari Indonesia. ah iya, mungkin pengendara mobil yang tadi. mungkin dia ada perlu denganku. mumpung aku sudah menemukan dimana Amelie, tinggal menunggunya, mungkin aku menunggu diluar saja untuk sementara ini. sekalian merokok, dan menelpon pengemudi mobil yang tadi. lagipula di dalam dinginnya tidak normal, brrr. sesampainya di luar MIT Medical Center, aku menelpon nomor yang tadi.
"hello, this is Brandon Ruffian speaking.. i believe you just called to this number, am i right? how can i help you?" kataku.
"yes, i did called. this in Nikki speaking. Nikki Danielle Ambersong." jawab suara di seberang sana.
"hello, D. did you remember your civic?" tanyaku.
"yeah, but what's with that question all of a sudden?" jawabnya agak bingung.
"cause i saw it. in fact, i'm looking at it right now." jelasku.
"yeah, so?" jawabnya, masih terdengar agak bingung.
"it's wrecked. looked like it went to an accident just now, the engine was still covered in smokes." kataku.
"WHAT!! did you said it was wrecked!?" jawabnya, aku harus menjauhkan telepon itu dari telingaku, hampir saja telingaku pecah mendengarnya.
"yup, no doubt about it. and one thing that's been bothering me." kataku.
"well, what is it?" tanya Daryl.
"Amelie's purse was inside. that's one more last thing i'd be doubting." jawabku.
"well, you see. when my dad decided that we should sold the car, Amelie somehow heard it. and then she bought it." Daryl menjelaskan.
"so it IS Amelie's car that i'm looking at?" aku memastikan.
"yes, no doubt about it as well." jawabnya. suaranya terdengar yakin sekali.
"and why in the world you never told this to me?" balasku.
"i just thought.. you never asked.." jawabnya singkat.
"tch. i'm going to hang up now, think you had an idea where she could have been brought to? a hospital or medical center maybe?" tanyaku.
"hmm.. where are you now?" balasnya.
"just passed the Vassar St. junction." kataku.
"have you tried going to MIT Medical Center? it's near where you are, why don't you try to look for it. oh, and.. i'll be there as soon as i can too." jawabnya.
"great. i completely forgot about that building. thanks D." kataku.
"i'll look out for the car, you just worry on Amelie, 'kay?"
"ten-four. roger that. let's mosey."
"ten-four? lets mosey? what the? [phone hang up] argh, dammit you B. yo Sean, trouble big time. we gotta run." kata Daryl pada Sean.
"aye cap. where to?" tanyanya.
"Vassar St. junction" jawab Daryl.
"right behind ya." jawab Sean singkat.
oh my god. aku tak bisa berhenti membayangkan apa yang terjadi pada Amelie. kalau dilihat dari kerusakan yang terjadi pada mobil itu, bagian pengemudinya memang tidak seberapa parah, tapi bagian kanannya seperti habis diterjang truk yg besar sekali.. mudah2an kejadiannya bukan seperti itu, menyeramkan sekali.. sambil berjalan menyusuri Vassar St. menuju MIT Medical Center aku mengetik sms untuk Mrs. Ashcroft. Sorry ya Danisha, aku ngga bisa bantuin kamu malam ini.. dan aku juga harus skip tawaran dinnernya. duh. padahal kantong lagi kosong, kan lumayan, pikirku dalam hati.
Hi, Mrs. Ashcroft, first of all i'm terribly sorry. i'm afraid i can't come to your house tonight. please tell Danisha too, i'm sorry. there's been an urgent matter. i'm sure you knew Amelie Ashcroft. well, i just met her this morning, and unfortunately she had just ran into an accident. i haven't know all the details yet, but i'm searching for her right now. i'm going to MIT Medical Center. Daryl and Sean are on this too. they're going to Vassar St. junction to look after the car. that would be all for this matter. i promise i'll make it up later on another day. send my best regards to Mr. Ashcroft and Danisha.
aku mengetik sms sambil jalan, dan kadang2 berlari kecil. jadi yah.. maklum aku jarang sekali melihat ke depan.. sesekali aku tak sengaja menabrak orang yang ada di depanku, dan mereka berteriak "hey! watch where you're going!" sementara itu aku terus berjalan menuju MIT Medical Center. ok, sms sent. dan pas sekali aku sampai di MIT Medical Center. sepertinya aku harus menyeberang jalan. tanpa berpikir panjang aku menyeberang jalan. di tengah2 penyebranganku, terdengar suara ban mobil mencicit. ok, err.. suaranya semakin dekat.. OH MY GOD! aku melihat ke sebelah kananku, dan sepertinya aku tidak sempat menghindar. dammit. apa aku juga akan mengalami kecelakaan? mobil itu semakin dekat, semakin dekat, bunyi remnya semakin kencang. sampai akhirnya bunyi itu berhenti tepat di depan kakiku. bempernya nyaris bersentuhan dengan celana jeans yang kupakai. aku sempat terdiam beberapa saat, begitu pula dengan pengendara mobil itu. kemudian aku memberanikan diri untuk menghampirinya. ternyata seorang perempuan. dan dari penampilannya, sepertinya umurnya tidak jauh beda denganku.
"listen, i'm very sorry, but i'm in a REAL hurry. if you want anything, you can find me here." kataku sambil menyerahkan kartu namaku kepada perempuan itu.
kemudian aku melanjutkan berjalan ke MIT Medical Center. hmm.. let's see.. emergency.. ah, ini dia.. harusnya ada lobby di sekitar sini. setelah berjalan sedikit aku menemukan lobby bagian emergency.
"excuse me, how may i help you?" kata suster yg sedang jaga.
"right, umm, i am looking for a person named Amelie, Amelie Ashcroft, i believe she got an accident just not long ago. i'm not sure that she was taken here though, so basicly i just want to check, because this is the nearest place that she could have been brought to.." jelasku.
"please hold on a moment." kata suster itu.
kemudian si suster itu menyibukkan dirinya dengan telepon. entah siapa yang dihubunginya, tapi aku yakin dia sedang membantuku mencari Amelie. oh shit. by the way, disini dinginnya minta ampun. ah, aku lupa membawa jaketku. sepertinya tertinggal di cafe tadi. ugh. aku hanya bisa mengusap2 lenganku sambil melingkarkannya di depan dadaku untuk meng-counter dinginnya AC di MIT Medical Center. dammit. kenapa sih mereka selalu pasang AC dingin2. dasar bule.
"well, you were lucky, umm sort of.. in any case, she was indeed brought to here." kata si suster jaga itu.
"really? so where is she now?" tanyaku.
"i believe she's still in the emergency room. i'm sorry i don't have any information on which room she might be, but you can wait for her at the waiting room. just past this corridor, turn right, and you'll see a waiting room there." jelas suster itu.
"thank you. thank you very much." kataku.
"your welcome." kata si suster.
aku berjalan menyusuri koridor, kemudian menemukan ruang tunggu yang dikatakan oleh si suster tadi. ok, sekarang waktunya mencari dimana Amelie. satu persatu aku mengintip ke jendela kamar, berharap bisa menemukan Amelie di salah satu kamar itu. dari jendela kamar pertama terlihat seorang laki2, sepertinya sedang bersama anaknya. hmm bukan. aku melanjutkan ke jendela kamar kedua. dammit. tirainya tertutup. sial. aku harap itu bukan Amelie. karena kalau tirainya tertutup pasti sesuatu yang gawat sedang terjadi di kamar itu. hey, makanya disini namanya Emergency Room kan? hmmmh.. aku meninggalkan jendela kamar kedua, untuk saat ini, mungkin nanti akan kulihat lagi. lanjut ke jendela kamar ketiga. ada seorang perempuan disana, hmm.. hanya terlihat dari belakang. sepertinya sedang duduk di atas kasur. tak ada dokter disana, jadi mungkin perempuan ini sedang menunggu dokternya. hmm? aku sempat berarap bahwa perempuan itu adalah Amelie. bukan hanya aku menemukan dia, tapi juga berarti tidak ada cedera serius yang dialaminya. buktinya sekarang saja dia sudah bisa duduk2 santai di atas kasur sambil menunggu dokternya. oh, dokternya masuk ke kamar. ah, dia berpaling ke arah sini.. aaahhh.. bukan Amelie ternyata. aku tak bisa menahan kekecewaanku. apalagi setelah melihat kamar ke empat, yang tirainya juga ditutup. mungkin saat ini aku hanya bisa menunggu di waiting room ini. semoga saja tidak terjadi apa2 pada Amelie. well, ngga mungkin juga sih, ngga terjadi apa2. at least kalau memang terjadi apa2, mudah2an tidak terlalu parah.
come to think about it.. untung barusan aku juga ngga kenapa2. hampir saja aku dibawa kemari, kalau mobil tadi itu menabrakku, sudah pasti aku akan dibawa juga kemari. ngga kebayang deh kalau aku juga sampai dibawa kesini. aku melihat sekeliling, tentunya masih sambil mengusap2 lenganku, dinginnya masih menusuk sampai tulang. pantas saja, ACnya ada dimana2. no wonder it's so cold here. hmm? what's that? aku melihat peringatan, gambarnya seperti handphone dan ada tanda silang nya, kalau di Indonesia, seperti tanda dilarang parkir, tapi huruf P nya diganti gambar handphone. oh iya, aku mengeluarkan handphone ku. lebih baik aku mengganti profile nya jadi silent, sebelum dia berdering dan aku dikeluarkan dari ruangan ini karena membuat onar, hahaha. lho? ternyata profile nya sudah silent. hey. 2 missed calls? pantas aku tak sadar.. karena sejak tadi handphoneku sudah aku silent. ah iya. aku ingat, aku membuatnya silent saat bertemu dengan Amelie di cafe, pagi ini. ok, kita lihat siapa yang miss call. 1 dari Daryl. ah, kalau Daryl sih, nanti aja. paling juga nanti dia telepon duluan. 1 lagi? hmm? sepertinya local number, bukan dari Indonesia. ah iya, mungkin pengendara mobil yang tadi. mungkin dia ada perlu denganku. mumpung aku sudah menemukan dimana Amelie, tinggal menunggunya, mungkin aku menunggu diluar saja untuk sementara ini. sekalian merokok, dan menelpon pengemudi mobil yang tadi. lagipula di dalam dinginnya tidak normal, brrr. sesampainya di luar MIT Medical Center, aku menelpon nomor yang tadi.
"hello, this is Brandon Ruffian speaking.. i believe you just called to this number, am i right? how can i help you?" kataku.
"yes, i did called. this in Nikki speaking. Nikki Danielle Ambersong." jawab suara di seberang sana.
Wednesday, May 09, 2007
crap..
Mood:
Sadness
Listening to: nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..
Reading: my last sms, just to be sure it was delivered
Watching: my inbox, which is still empty, no replies
Playing: Resident Evil DS, die you zombies, die!!!
Eating: krupuk udang
Drinking: es teh manis
really..
what is wrong with me?
or..
what is wrong with you people?
i feel like..
crap..
argh..
just.. leave me alone for a while..
oh, right.. you all already did, i forgot..
Listening to: nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..
Reading: my last sms, just to be sure it was delivered
Watching: my inbox, which is still empty, no replies
Playing: Resident Evil DS, die you zombies, die!!!
Eating: krupuk udang
Drinking: es teh manis
really..
what is wrong with me?
or..
what is wrong with you people?
i feel like..
crap..
argh..
just.. leave me alone for a while..
oh, right.. you all already did, i forgot..
Tuesday, May 01, 2007
catatan antara empat dan lima | trying to get things done, my way
sangat menyenangkan sekali bukan? saat segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. dan ya! saya bertemu dengan orang2 baru. (lots of them, mind you..) dan mereka semua ramah2 sekali. senang sekali bisa ikut bergabung dengan mereka. salah satu dari mereka berhasil meracuni saya untuk kembali menggilai fotografi. huh. saya tak mau kalah. akhirnya saya berhasil mengompori teman saya itu untuk membeli macbook, hahaha.. welcome to the club, mbul. akhirnya kesampean juga kan? ngga rugi deh beli macbook. perlu saya bilangin lagi alasannya kenapa? sampe kamu budek juga saya ngga keberatan (lho?) wah, masih banyak sekali orang2 yang "tahu lebih dulu" daripada saya. pun tidak cuma satu dua hal, tapi banyak. kalau begini saya juga harus "tahu tentang semua yang mereka tahu" walaupun telat, datengnya belakangan, tapi gak papa. it's never too late to learn though.
singkat cerita, berkat racunnya si mbul (sapi dari perth) saya kembali mengoprek2 kamera. maksudnya mendalami ya, bukan mempreteli satu2 dan memasangnya lagi sesuai buku petunjuk. bisa 10 tahun gak kelar2. so about taking pictures.. frankly, i really love taking pictures about skies. but the sky's been boring lately, hahaha.. so i've decided to go to places i've never taken pictures before, and made it looked like photojournalism. it's cool. and this new "mobile office" thing is helping me a lot. waktu saya sedang nongkrong di starbucks citos, saya sempat ditelpon salah seorang teman saya. dia bertanya "lagi dimana lo?" lalu saya jawab "di kantor." lalu sebelum dia beranjak untuk menghampiri saya ke kantor yang lama, saya langsung berkata "kantor gw pindah lho, skr di starbucks citos." dia sempat terbengong2 heran sebelum saya akhirnya saya menjelaskan tentang ini. ada juga cerita menarik tentang seseorang dari masa lalu. yang akhirnya sudah bisa saya temui dan ber-haha-hihi sambil minum kopi, laughing about this and that. menggila. saya memanggilnya "miss-maybe-sometime-we-can-grab-a-cup-of-coffee-and-laugh-about-us", haha! and she's been nice, so i think there's no reason to be un-nice. ya Prit?
about something i learned these past few days, jadi orang jangan terlalu pesimis, dikit2 harus berani ngambil resiko. kalau takut gagal, mau sampai kapan takutnya? kapan mau belajar menghadapi kesalahan dan belajar dari kesalahan itu. toh juga ngga ada yang menuntut kita untuk selalu sempurna kok. namanya juga manusia. justru karena kita manusia itu makanya sometimes we're capable of doing something wrong, and eventually learn from it. (stop me. i'm starting to sound like my dad.)
anyway! saya kembali menulis cerita tentang Brandon Ruffian. yeah, i know, after a veeerrryyy long time. thanks to si mbul yang kekeh banget jam 11 malem masih merengek2 minta lanjutan ceritanya.. dan sepertinya masih banyak kejutan yang akan muncul di cerita ini, (saya juga mbacanya makin lama makin seru, hahaha.. ngga nyangka banyak yang nge-fans juga..) also thanks to Daryl and Sean, yang selalu setia menemani Brandon (lho apa hubungannya?) anyway, thanks to all my deviantART friends, The-So-Called-Outcasts gank, si mbul, si begeng, si item, si tembem, si oink, yang punya Yoi Bondi, miss-maybe-sometime-we-can-grab-a-cup-of-coffee-and-laugh-about-us, my Nintendo DS Lite.. yang selalu jadi pelarian kalo lagi blank dan ngga tau mau nulis apa.. hahaha.. and all my friends out there. so? let's. get. things. done. my way! yaay!
[Bondan, 1 May 2007, 1:04 PM, sambil merem melek karena bangun, dan kepanasan gara2 AC nya kamar aji dimatiin..]
singkat cerita, berkat racunnya si mbul (sapi dari perth) saya kembali mengoprek2 kamera. maksudnya mendalami ya, bukan mempreteli satu2 dan memasangnya lagi sesuai buku petunjuk. bisa 10 tahun gak kelar2. so about taking pictures.. frankly, i really love taking pictures about skies. but the sky's been boring lately, hahaha.. so i've decided to go to places i've never taken pictures before, and made it looked like photojournalism. it's cool. and this new "mobile office" thing is helping me a lot. waktu saya sedang nongkrong di starbucks citos, saya sempat ditelpon salah seorang teman saya. dia bertanya "lagi dimana lo?" lalu saya jawab "di kantor." lalu sebelum dia beranjak untuk menghampiri saya ke kantor yang lama, saya langsung berkata "kantor gw pindah lho, skr di starbucks citos." dia sempat terbengong2 heran sebelum saya akhirnya saya menjelaskan tentang ini. ada juga cerita menarik tentang seseorang dari masa lalu. yang akhirnya sudah bisa saya temui dan ber-haha-hihi sambil minum kopi, laughing about this and that. menggila. saya memanggilnya "miss-maybe-sometime-we-can-grab-a-cup-of-coffee-and-laugh-about-us", haha! and she's been nice, so i think there's no reason to be un-nice. ya Prit?
about something i learned these past few days, jadi orang jangan terlalu pesimis, dikit2 harus berani ngambil resiko. kalau takut gagal, mau sampai kapan takutnya? kapan mau belajar menghadapi kesalahan dan belajar dari kesalahan itu. toh juga ngga ada yang menuntut kita untuk selalu sempurna kok. namanya juga manusia. justru karena kita manusia itu makanya sometimes we're capable of doing something wrong, and eventually learn from it. (stop me. i'm starting to sound like my dad.)
anyway! saya kembali menulis cerita tentang Brandon Ruffian. yeah, i know, after a veeerrryyy long time. thanks to si mbul yang kekeh banget jam 11 malem masih merengek2 minta lanjutan ceritanya.. dan sepertinya masih banyak kejutan yang akan muncul di cerita ini, (saya juga mbacanya makin lama makin seru, hahaha.. ngga nyangka banyak yang nge-fans juga..) also thanks to Daryl and Sean, yang selalu setia menemani Brandon (lho apa hubungannya?) anyway, thanks to all my deviantART friends, The-So-Called-Outcasts gank, si mbul, si begeng, si item, si tembem, si oink, yang punya Yoi Bondi, miss-maybe-sometime-we-can-grab-a-cup-of-coffee-and-laugh-about-us, my Nintendo DS Lite.. yang selalu jadi pelarian kalo lagi blank dan ngga tau mau nulis apa.. hahaha.. and all my friends out there. so? let's. get. things. done. my way! yaay!
[Bondan, 1 May 2007, 1:04 PM, sambil merem melek karena bangun, dan kepanasan gara2 AC nya kamar aji dimatiin..]
Thursday, April 19, 2007
you never asked | part six
Brandon Ruffian. 16 tahun. Kelas 3 IPA 2. hari itu aku datang ke sekolah jam 6:30. Dani sudah ada di kelas, tapi Aryo belum datang. padahal dia piket hari ini. anehnya, tak ada satupun anak yang mencoba menggodaku setelah kejadian kemarin. biasanya kalo ada yang ketauan naksir gitu langsung digosipin dan digoda-godain abis-abisan. well, maybe it's just my luck. pagi itu aku sangat tidak bersemangat. aku tidak beranjak dari mejaku sedikitpun, hanya menaruh dua tangan di atas meja lalu membenamkan kepalaku di tengah-tengahnya. jam 6:50. kelas sudah ramai. tapi ada satu orang yang hilang, dan satu orang ini biasanya sangat menyita perhatianku. Chika. Chika belum datang. dan ini sudah hampir bel masuk jam 7. ah, mungkin hanya terlambat biasa. tapi biasanya jarang sekali Chika terlambat. Aryo sampai di sekolah bersamaan dengan bel masuk dan sempat mengundang wajah seram Bu Rahma karena mencoba menyelinap masuk ke dalam kelas saat dia sedang memeriksa daftar absen.
"pagi Bu. maaf saya terlambat." kata Aryo di depan kelas.
"kenapa kamu terlambat?" tanya Bu Rahma.
"biasa Bu, macet." jawab Aryo polos.
"ya semua orang juga tahu Jakarta macet, makanya lain kali berangkat lebih pagi. pasang itu jam di jidat kamu, biar nggak terlambat lagi." kata Bu Rahma.
"ya Bu." jawab Aryo pasrah, kemudian berjalan ke tempat duduknya.
pelajaran pun dimulai. sesekali aku memaksakan diri untuk menengok ke belakang, melempar pandanganku ke arah mejanya Chika. mau ngga mau memang harus berpapasan dengan mukanya Dani. untungnya sebelum Bu Rahma sempat melempar kepalaku dengan penghapus papan tulis, aku sudah keburu kembali menengok ke depan sambil memegang tip-ex yang kuambil dari mejanya Dani. itu juga gara2 pelototan matanya Dani, yang seolah2 mengisyaratkan "heh. Bu Rahma ngeliatin tuh. liat ke depan sono! nih tip-ex." tampaknya Bu Rahma hari ini sedang agak2 senewen. apalagi ditambah Aryo yang telat masuk. untungnya pelajaran Bu Rahma tidak begitu membosankan. bel pergantian pelajaran pun akhirnya berbunyi. dan Chika masih belum datang juga.
"man, kenapa lo? dari tadi diem aje. ngga ke kantin lo? jajan? nitip permen dong gue." kata Dani.
"ogah ah, males. males ngapa2in gue." jawabku singkat.
"ah ngga asik loo.. eh guru guru guru." ujar Dani.
dan kemudian seluruh kelas berdiri memberi salam kepada Pak Budi. namun tidak lama kemdian, datang 3 orang, sepertinya anak kelas 2, yang bertugas menarik amal untuk masjid di sekolah. ini kan baru hari Rabu, pikirku. biasanya mereka selalu datang hari Jumat setelah jam istirahat. dan kadang suka digoda2in sama cewek2 di kelas. biasa, mungkin cewek2 yg kurang laku itu pada nyari gebetan di kelas 2. soalnya dulu aku juga pernah beberapa kali digodain. kemudian mereka meminta ijin kepada Pak Budi untuk membacakan pengumuman. hmm, ini pasti bukan sekedar amal jariyah, pasti ada sesuatu yg lain.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." sapa si anak yang membawa map, suasana kelas masih saja ribut, ada cowok2 yang bersiul2, ada cewek2 yang melirik2 sambil ketawa2. ada juga yang sok2 belain mereka dengan berkata
"ehem ehem. oi dengerin dong, kesian kan kalo digodain, heheh cieeeh2 ada yg ngelirik tuh, kelas berapa niiih?"
ujung2nya tetep aja nggodain. kemudian suasana kelas mendadak langsung menjadi hening, aku juga sempat terdiam beberapa saat setelah si anak yang membawa map itu berkata
"innalillahi wa inna ilaihi raajiun. telah berpulang ke rahmatullah, Chika Anindya Putri, siswi kelas 3 IPA 2 pada hari Selasa, 14 September 1999. jenazah akan dikebumikan jam 13:00 siang ini di taman pemakaman Jeruk Purut. untuk itu marilah kita berdoa semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosa dosanya."
pandanganku kosong. pendengaranku hilang. untuk sesaat aku lupa bagaimana caranya menghirup nafas. aku benar2 terdiam, tak menghirup nafas sedikitpun, sampai jantungku berdetak begitu kencangnya, karena hampir kehabisan oksigen. lalu aku menarik nafas panjang. kepalaku pusing, mataku berkunang2. badanku lemas dan kesemutan. rasanya seperti mau pingsan. tiba2 seluruh badanku gemetar. aku tak kuasa menahan dorongan untuk berteriak. rasanya dada ini penuh sesak. ingin kukeluarkan semuanya.
"bersama itu pula, kami mohon bantuan amal seikhlasnya untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan."
tanpa pikir panjang lagi aku langsung membereskan barang2 di mejaku dan berlari menuju Pak Budi.
"Pak, maaf saya ijin keluar sebentar, terima kasih Pak." kataku.
aku berlari menuju ruang piket. kemudian tanpa pikir panjang aku meminta ijin untuk pulang. setelah beberapa menit berdebat dengan guru piket, akhirnya aku diijinkan untuk pulang. aku tak berbicara sepatah kata pun saat memasuki kelas. Dani juga cuma bisa diam. aku membereskan tasku lalu keluar kelas. keluar sekolah. dan entah apa yang kupikirkan, tiba2 aku tersadar berada di angkutan umum yang menuju rumah Chika. aku tak henti2nya mencoba mengusir bayangan wajahnya dari kepalaku. ingatan tentang dia muncul satu persatu, bergantian. aku tak bisa diam menunggu angkutan umum ini sampai di dekat rumahnya. aku turun dari angkutan dan berlari menerobos kemacetan di sebuah perempatan lampu merah. hampir saja aku terserempet oleh motor yang sedang melintas saat aku turun. namun itu semua tidak menghalangiku untuk mempercepat langkah kakiku.
sesampainya di rumah Chika, perasaanku benar2 ngga enak. dari teras terlihat dan terdengar beberapa orang sedang membaca ayat2 al-quran. entah kenapa suaranya sangat membuat kepalaku pusing, dan telingaku budek. mungkin karena aku masih belum menerima kenyataan kalau Chika sudah meninggal. sejak tadi yang ada di kepalaku hanya kata2 itu. Chika meninggal? ngga mungkin. bohong. pasti bohong. ngga mungkin dia secepat itu. karena itulah di sekolah tadi tanpa sadar aku langsung memutuskan untuk pergi ke rumahnya, untuk memastikan dengan mata kepalaku sendiri. aku menuju ke ruang tamu. terlihat sebuah sosok terbaring disana. aku tak mempercayai mataku sendiri. aku memaksakan diri melangkah menuju meja tempat sosok itu terbaring. dalam pikiranku, aku berpikir, "ini ngga mungkin orang lain, ini pasti Chika, kenapa sih lo masih ngga percaya juga, Brandon?" semakin dekat langkahku semakin berat. tanganku kembali gemetar, saat aku mengangkat kain yang menutupi muka dari jenazah yang terbaring itu. seketika itu juga, terlihat wajah Chika yang sudah sangat pucat, dibalut kain kafan. aku tak bisa melawan kehendak tubuhku lagi, aku hanya diam saja saat tubuhku memaksaku untuk terjatuh dan pingsan. seingatku, aku terbangun di ruang tengah, setelah ditolong oleh orangtuanya Chika.
Brandon Ruffian. 23 tahun. perasaan itu kembali menghantuiku sekarang. aku tak bisa tenang, aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. kemudian aku mencoba menelpon Amelie. hmm, voicemail, tak ada jawaban. aku mulai curiga. tiga kali aku mencoba menelpon, tapi dijawab oleh voicemail. saat aku mencoba untuk keempat kalinya, tiba2 saja telepon genggamku berdering tepat di telingaku. rasanya gendang telinga ini mau pecah.
"hello." sapaku.
"hi Brandon, this is Mrs. Ashcroft." jawab Mrs. Ashcroft di ujung telepon.
"oh hi! i didn't expect you'd call, heehee.." jawabku.
"i was just wondering. yesterday you said that you're coming for dinner tonight, right?" tanya Mrs. Ashcroft.
"oh yeah! right. i almost forgot. Danisha wanted me to help with her science project, right?" jawabku.
"yes, she's right here at home. waiting for you. so, what time will you be here?" tanyanya.
"i'll be there right away. maybe around 5 or 6 o clock." jawabku.
"ok then, be careful on your way here, ok?" balasnya.
"ok, see you later Mrs. Ashcroft. bye." kataku.
"bye." kata Mrs. Ashcroft.
oke. waktunya membuang jauh2 tentang ingatan masa lalu itu. walaupun begitu, aku tak bisa membohongi perasaanku, ada sesuatu yang ngga beres nih. aku mencoba menelpon Amelie kembali. lagi2 tak ada jawaban. i knew it. something happened and i can feel it. something happened, with Amelie. i don't know what. i don't know why. but i know, that i'm going to find out..
"pagi Bu. maaf saya terlambat." kata Aryo di depan kelas.
"kenapa kamu terlambat?" tanya Bu Rahma.
"biasa Bu, macet." jawab Aryo polos.
"ya semua orang juga tahu Jakarta macet, makanya lain kali berangkat lebih pagi. pasang itu jam di jidat kamu, biar nggak terlambat lagi." kata Bu Rahma.
"ya Bu." jawab Aryo pasrah, kemudian berjalan ke tempat duduknya.
pelajaran pun dimulai. sesekali aku memaksakan diri untuk menengok ke belakang, melempar pandanganku ke arah mejanya Chika. mau ngga mau memang harus berpapasan dengan mukanya Dani. untungnya sebelum Bu Rahma sempat melempar kepalaku dengan penghapus papan tulis, aku sudah keburu kembali menengok ke depan sambil memegang tip-ex yang kuambil dari mejanya Dani. itu juga gara2 pelototan matanya Dani, yang seolah2 mengisyaratkan "heh. Bu Rahma ngeliatin tuh. liat ke depan sono! nih tip-ex." tampaknya Bu Rahma hari ini sedang agak2 senewen. apalagi ditambah Aryo yang telat masuk. untungnya pelajaran Bu Rahma tidak begitu membosankan. bel pergantian pelajaran pun akhirnya berbunyi. dan Chika masih belum datang juga.
"man, kenapa lo? dari tadi diem aje. ngga ke kantin lo? jajan? nitip permen dong gue." kata Dani.
"ogah ah, males. males ngapa2in gue." jawabku singkat.
"ah ngga asik loo.. eh guru guru guru." ujar Dani.
dan kemudian seluruh kelas berdiri memberi salam kepada Pak Budi. namun tidak lama kemdian, datang 3 orang, sepertinya anak kelas 2, yang bertugas menarik amal untuk masjid di sekolah. ini kan baru hari Rabu, pikirku. biasanya mereka selalu datang hari Jumat setelah jam istirahat. dan kadang suka digoda2in sama cewek2 di kelas. biasa, mungkin cewek2 yg kurang laku itu pada nyari gebetan di kelas 2. soalnya dulu aku juga pernah beberapa kali digodain. kemudian mereka meminta ijin kepada Pak Budi untuk membacakan pengumuman. hmm, ini pasti bukan sekedar amal jariyah, pasti ada sesuatu yg lain.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." sapa si anak yang membawa map, suasana kelas masih saja ribut, ada cowok2 yang bersiul2, ada cewek2 yang melirik2 sambil ketawa2. ada juga yang sok2 belain mereka dengan berkata
"ehem ehem. oi dengerin dong, kesian kan kalo digodain, heheh cieeeh2 ada yg ngelirik tuh, kelas berapa niiih?"
ujung2nya tetep aja nggodain. kemudian suasana kelas mendadak langsung menjadi hening, aku juga sempat terdiam beberapa saat setelah si anak yang membawa map itu berkata
"innalillahi wa inna ilaihi raajiun. telah berpulang ke rahmatullah, Chika Anindya Putri, siswi kelas 3 IPA 2 pada hari Selasa, 14 September 1999. jenazah akan dikebumikan jam 13:00 siang ini di taman pemakaman Jeruk Purut. untuk itu marilah kita berdoa semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosa dosanya."
pandanganku kosong. pendengaranku hilang. untuk sesaat aku lupa bagaimana caranya menghirup nafas. aku benar2 terdiam, tak menghirup nafas sedikitpun, sampai jantungku berdetak begitu kencangnya, karena hampir kehabisan oksigen. lalu aku menarik nafas panjang. kepalaku pusing, mataku berkunang2. badanku lemas dan kesemutan. rasanya seperti mau pingsan. tiba2 seluruh badanku gemetar. aku tak kuasa menahan dorongan untuk berteriak. rasanya dada ini penuh sesak. ingin kukeluarkan semuanya.
"bersama itu pula, kami mohon bantuan amal seikhlasnya untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan."
tanpa pikir panjang lagi aku langsung membereskan barang2 di mejaku dan berlari menuju Pak Budi.
"Pak, maaf saya ijin keluar sebentar, terima kasih Pak." kataku.
aku berlari menuju ruang piket. kemudian tanpa pikir panjang aku meminta ijin untuk pulang. setelah beberapa menit berdebat dengan guru piket, akhirnya aku diijinkan untuk pulang. aku tak berbicara sepatah kata pun saat memasuki kelas. Dani juga cuma bisa diam. aku membereskan tasku lalu keluar kelas. keluar sekolah. dan entah apa yang kupikirkan, tiba2 aku tersadar berada di angkutan umum yang menuju rumah Chika. aku tak henti2nya mencoba mengusir bayangan wajahnya dari kepalaku. ingatan tentang dia muncul satu persatu, bergantian. aku tak bisa diam menunggu angkutan umum ini sampai di dekat rumahnya. aku turun dari angkutan dan berlari menerobos kemacetan di sebuah perempatan lampu merah. hampir saja aku terserempet oleh motor yang sedang melintas saat aku turun. namun itu semua tidak menghalangiku untuk mempercepat langkah kakiku.
sesampainya di rumah Chika, perasaanku benar2 ngga enak. dari teras terlihat dan terdengar beberapa orang sedang membaca ayat2 al-quran. entah kenapa suaranya sangat membuat kepalaku pusing, dan telingaku budek. mungkin karena aku masih belum menerima kenyataan kalau Chika sudah meninggal. sejak tadi yang ada di kepalaku hanya kata2 itu. Chika meninggal? ngga mungkin. bohong. pasti bohong. ngga mungkin dia secepat itu. karena itulah di sekolah tadi tanpa sadar aku langsung memutuskan untuk pergi ke rumahnya, untuk memastikan dengan mata kepalaku sendiri. aku menuju ke ruang tamu. terlihat sebuah sosok terbaring disana. aku tak mempercayai mataku sendiri. aku memaksakan diri melangkah menuju meja tempat sosok itu terbaring. dalam pikiranku, aku berpikir, "ini ngga mungkin orang lain, ini pasti Chika, kenapa sih lo masih ngga percaya juga, Brandon?" semakin dekat langkahku semakin berat. tanganku kembali gemetar, saat aku mengangkat kain yang menutupi muka dari jenazah yang terbaring itu. seketika itu juga, terlihat wajah Chika yang sudah sangat pucat, dibalut kain kafan. aku tak bisa melawan kehendak tubuhku lagi, aku hanya diam saja saat tubuhku memaksaku untuk terjatuh dan pingsan. seingatku, aku terbangun di ruang tengah, setelah ditolong oleh orangtuanya Chika.
Brandon Ruffian. 23 tahun. perasaan itu kembali menghantuiku sekarang. aku tak bisa tenang, aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. kemudian aku mencoba menelpon Amelie. hmm, voicemail, tak ada jawaban. aku mulai curiga. tiga kali aku mencoba menelpon, tapi dijawab oleh voicemail. saat aku mencoba untuk keempat kalinya, tiba2 saja telepon genggamku berdering tepat di telingaku. rasanya gendang telinga ini mau pecah.
"hello." sapaku.
"hi Brandon, this is Mrs. Ashcroft." jawab Mrs. Ashcroft di ujung telepon.
"oh hi! i didn't expect you'd call, heehee.." jawabku.
"i was just wondering. yesterday you said that you're coming for dinner tonight, right?" tanya Mrs. Ashcroft.
"oh yeah! right. i almost forgot. Danisha wanted me to help with her science project, right?" jawabku.
"yes, she's right here at home. waiting for you. so, what time will you be here?" tanyanya.
"i'll be there right away. maybe around 5 or 6 o clock." jawabku.
"ok then, be careful on your way here, ok?" balasnya.
"ok, see you later Mrs. Ashcroft. bye." kataku.
"bye." kata Mrs. Ashcroft.
oke. waktunya membuang jauh2 tentang ingatan masa lalu itu. walaupun begitu, aku tak bisa membohongi perasaanku, ada sesuatu yang ngga beres nih. aku mencoba menelpon Amelie kembali. lagi2 tak ada jawaban. i knew it. something happened and i can feel it. something happened, with Amelie. i don't know what. i don't know why. but i know, that i'm going to find out..
Sunday, April 08, 2007
you never asked | part five
sudah 2 jam lebih kita ngobrol di coffee shop. ternyata banyak hal lain yang bisa kita obrolin daripada sekedar mengajari Amelie bahasa Indonesia. tiba-tiba sebuah handphone berdering. rupanya milik Amelie.
“hold on. yes mom?” sapa Amelie, rupanya ibunya yang menelepon.
“sure. it’s just a couple of blocks from here. i’ll be there right away.” kata Amelie kepada ibunya di telepon.
“so. uh, i’m really sorry, but i gotta run. my mom’s waiting.” katanya.
“whoa, what’s the rush? but don’t worry ‘bout me, i’m fine.” tanyaku.
“i dunno, my mom just called, i think she wants me to pick her up.” jelasnya.
“okay then, i hope i can see you again, maybe some other time.” kataku.
“okay, bye.” katanya sambil beranjak pergi.
“bye.” balasku pelan.
kemudian yang terlihat dari Amelie hanya punggungnya. saat dia keluar dari pintu coffee shop. tiba-tiba saja ingatan tentang Priscilla kembali menghantui pikiranku. aku memang sering teringat hal-hal yang tidak mengenakkan kalau lagi sendirian. itulah kenapa aku sangat butuh teman-temanku. mereka sangat membantuku untuk melupakan ingatan-ingatan yang tidak mengenakkan itu.
selama beberapa tahun terakhir ini, hanya sebagian teman-temanku yang tetap setia menemaniku kapan saja. diantaranya ada Daryl dan Sean. lalu Travis Quadrian, temanku dari jaman kuliah yang sejak tahun lalu pindah dan tinggal di Malaysia. jadi sejak dia pindah kita hanya bisa berhubungan lewat Yahoo Messenger. kemudian ada Fergie Fitzgerald dan kakaknya Harry Houseman, mereka juga sama-sama kuliah di MIT, Harry satu jurusan denganku, sementara Fergie di jurusan lain. aku sempat tinggal di rumah mereka dan sempat cukup dekat dengan Mr. dan Mrs. Sommers. mereka memang orang asli sini. kira-kira apa kabar ya mereka.
ah iya. ngga lupa juga, temanku di Jakarta, Utha Andira. aku bertemu Utha secara tidak sengaja di friendster, lalu kita juga sering chatting di Yahoo Messenger. waktu itu sempat waktu aku pulang ke Jakarta dan bertemu dengannya. hanya sekali. ah kalau ingat Jakarta, aku jadi ingat masa lalu. sebenarnya masa laluku pun tidak sepenuhnya menyenangkan. ada sebuah kejadian yang sangat membuatku shock. aduh, kok aku jadi mengingat kejadian ini ya? argh. i can’t help it. ingatan tentang kejadian waktu itu terlintas begitu saja di pikiranku, tanpa permisi..
Brandon Ruffian. 16 tahun. Kelas 3 IPA 2. waktu itu aku lagi doyan-doyannya nge-band. bareng sama Dani, Adi, Aryo, sama Odenk. Dani itu jago main gitar, aku belajar banyak dari dia. Adi jago main bass, tapi aku nggak ada niatan sama sekali buat main bass, kalo Aryo suaranya kaya orang gila, dia bisa nyanyi macem-macem. si Odenk paling jago main drum. kerjaannya mainin stik drum melulu. sampe diomelin guru olahraga gara-gara bawa stik drum pas pelajaran basket (ya iya lah, dodol.) kita berempat sekelas semua, cuma si Odenk yang anak kelas 3 IPS 1 jadi dulu nama band kita “Three+”.
aku pulang sekolah bareng geng yang beda banget sama geng aku nge-band. isinya orang-orang kacau semua. wuah payah deh. bisa nggak maju kalo ikut-ikut mereka terus. yang jangkung namanya Ratno, jago main basket (macam Sawamura di Harlem Beat lah, asli persis banget. semuka-mukanya selicik-liciknya, najis.) yang gendut namanya Ade, aslinya sih Syarifudin, gendut tapi jago main sepatu roda, omongannya sekitar selangkangan terus, gak ada abisnya. yang kecil namanya Adit, anak kelas 2. dia itu paling bego dan paling nggak tau apa-apa. kalo dibo’ongin iya iya aja. nggak pake nanya. kadang-kadang kesian juga sama dia.
sebenernya dari dulu aku pengen banget ngerasain yang namanya punya pacar. kayak apa ya rasanya? aku inget banget pernah dicuekin sama geng pulangku itu gara-gara aku pernah pulang bareng cewek yang kutaksir dan gara-gara itu juga aku jadi digosipin abis-abisan. katanya lupa temen lah. pengkhianat lah. wek. biar sekalian aja aku lepas dari mereka. emang dasar kumpulan orang-orang dodol. pikirku waktu itu. bilang aja sirik, huehehehe.
ada satu orang temen sekelasku, sukanya duduk di belakang, awalnya kuanggap dia biasa-biasa aja, nggak ada yang spesial dari dia, seperti teman-teman sekelas yang lainnya. tapi sejak kejadian ‘kelompok belajar’ itu akhirnya aku jadi berusaha deketin dia. kejadiannya itu waktu Pak Budi lagi ngumunin nama-nama kelompok.
“kelompok 3, anggotanya Brandon, Chika, Fajar, Kurniawan, dan, Risa, yak silahkan berkumpul menurut kelompoknya ya. kelompok 4, Dani, Galih..”
sejak ‘insiden’ itu kita sering belajar bareng, ngerjain tugas bareng, ngumpul bareng. tanpa kusadari, ada perasaan yang beda kalo lagi ngumpul bareng geng pulang, sama kalo lagi ngumpul bareng kelompok belajar. giliran janjian sama geng pulang, kalo gak bisa dateng ya udah, tinggal telpon, maaf-maaf dikit, beres. tapi kalo sama kelompok belajar, beda. apapun kuusahain supaya bisa ngumpul bareng mereka, terutama sama..
entah sejak kapan ya. aku mulai tertarik sama Chika. aku mulai nganggep dia lebih dari sekedar temen sekelas golongan SDSB (Siswa Deretan Sebelah Belakang. apa coba.) atau sekedar temen belajar kelompok yang janjian ketemuan di rumah si anu, atau si itu, ngebahas anu, ngerjain itu. aku ngerasa sesuatu yang beda. setiap ketemu dia, aku selalu deg-degan. nggak jelas. kayaknya aku mulai suka sama dia, mungkin lebih. yang aku rasakan cuma pengen ketemu dia lebih lama. apa aja kulakukan biar bisa ketemu dia terus. walaupun akhirnya aku cuma bisa cengar cengir sambil memandangi wajahnya.
akhirnya aku mulai perhatiin Chika kalo lagi di kelas. baru nyadar, anaknya oke juga ternyata. cakep, pinter, senyumnya manis. sampe suatu hari katanya dia dideketin sama Andi, ketua kelas. awalnya aku ngga nyadar kalo Chika dideketin. aku mulai nyadar sejak si Dani, gitaris bandku itu bilangin aku, dan kebetulan Dani itu duduknya di belakang mejaku. kalo mau nyari Chika di kelas kan musti nengok ke belakang, jadi mau ngga mau musti berpapasan dengan mukanya Dani.
“man, mending lo ngomong langsung aja deh ke Chika, daripada diembat orang duluan, tuh liat.” kata Dani.
“ah rese lo. iya tuh kayaknya lagi dideketin si Andi. tapi gimana dong? gue kan paling ngga bisa ngomong langsung ke cewe.” balasku.
“yah, dibilangin ngeyel sih lo. kalo lo bilang, kemungkinannya kan jadi 50-50, 50% diterima, 50% lagi ditolak. beres kan? daripada lu diemin begini, kemungkinannya apaan? lo ngga akan tahu sebelom lo coba bro.” jelasnya.
“well, you got a point there. bener juga lo. pengen sih gue bilang, tapi lo tau sendiri kan, gue udah bilang tadi, gue paling ngga bisa ngomong langsung sama cewe, apalagi yg gue suka, pasti langsung diserang deg-degan duluan gue.” balasku.
“ah cupu lo. yaudah kalo ngga bisa ngomong langsung, mending lo tulis surat aja gimana?” usulnya.
“wah boleh juga lo. lo pinter juga ya urusan beginian. ngga cuma jago maen gitar, urusan cewe tokcer juga otak lo. kok lo baru sekarang sih ngasih saran yang cemerlang begini, kenapa ngga dari dulu-dulu waktu gue lagi naksir Ferra?” kataku.
“well, you never asked.” jawabnya singkat.
“ah rese lo.” balasku singkat juga.
kemudian kita berdua ketawa-tawa kaya orang bego. so, karena aku orangnya nggak bisa ngomong langsung ke dia, dan atas dasar ide cemerlang dari si Dani, akhirnya aku nulis surat buat Chika. dan ternyata nulis surat pun sama susahnya dengan ngomong langsung. aku menghabiskan 5 jam buat nulis surat yang isinya cuma 7 baris. 8 deh kalo tulisan “dear Chika,” yang ada di paling atas itu dihitung juga. akhirnya aku tidur nyenyak jam 2 pagi. damn. sekolah kan masuk jam 7.
oke. keesokan harinya akhirnya surat itu aku taruh di laci mejanya pas istirahat siang. tapi apa yang terjadi bener-bener bikin aku shock. sekembalinya aku dari kantin, dari deket kelas terdengar anak-anak pada ribut. Dani dan Aryo ada di luar kelas.
“man, ke kantin yok, sampe pelajaran mulai.” kata Dani.
“lah, gue baru dari kantin kali. itu ada apaan sih ribut-ribut di dalem? Farid ya?” kataku sambil ngintip ke dalam kelas. Chika ada di dalam.
“udeh pokoknya lo jangan masuk kelas dulu, daripada” kata Aryo.
“daripada apaan?” tanyaku.
tiba-tiba terdengar suara Farid. suaranya keras sekali. dan apa yang dikatakannya membuatku kaget setengah mati. karena kata-kata yang diucapkannya itu baru saja aku tulis tadi malam. kata-kata yang sampai jam 2 pagi aku pikirkan. kata-kata di surat itu.
“dear Chika, mungkin di mata elo, gue cuma temen sekelas biasa aja, tapi akhir-akhir ini gue mulai ngerasa ada sesuatu yang beda. gue mulai nggak bisa ngelupain elo. kalo gue nggak ketemu elo rasanya ada yang kurang. mungkin gue kangen.” kata Farid.
what the hell? kok surat itu bisa ada di tangan Farid? mati aku. ini sih bukan cuma Chika, seluruh kelas pasti tahu aku suka sama dia. mati. mati. mati. rasanya seperti ingin hilang ditelan bumi.
“gue suka sama elo. elo mau nggak jadi pacar gue? gue serius mau jadian sama elo. gue tunggu jawaban elo secepatnya. gue percaya, elo pasti ngasih jawaban terbaik, makasih.” kata Farid, menyelesaikan isi suratku yang dibacanya.
“ciyeeeee Brandon. suit suit!!” seluruh kelas langsung menyoraki. ah gila, aku malu setengah mati. dan di tengah-tengah keributan itu tiba-tiba Chika datang menghampiriku. sepertinya dia ingin memberitahu sesuatu padaku. semoga ini berita bagus, pikirku. tapi ternyata, suara yang terdengar dari mulutnya hanya..
“maaf ya.” katanya singkat.
aku bengong, tapi kepalaku mengangguk dengan sendirinya. ingin rasanya berteriak di depan mukanya “maaf?! maaf buat apa?! maaf gue nggak bisa jadi pacar lo?! tapi bukan berarti lo bisa permaluin gue kaya gini dong! gue juga manusia!!” ugh. dadaku sakit. rasanya mau pecah. yang aku tahu, Chika sengaja membiarkan Farid membaca surat itu di depan anak-anak. Chika sengaja mau membuatku malu didepan anak-anak. ya iya lah. mana mungkin Chika punya perasaan apa-apa kepadaku.
kemudian bel istirahat selesai berbunyi. sepanjang pelajaran sampai bel pulang aku hanya diam saja. aku tidak menengok ke belakang sedikitpun. bahkan Dani yang memanggilku dari belakang pun aku cuekin. rasanya ingin cepat-cepat pulang, membenamkan kepalaku di dalam bantal. hari itu, waktu berlalu lambat sekali. menunggu dering bel pulang terasa lebih lama dari biasanya. begitu bel terkutuk itu berbunyi, tanpa pikir panjang aku langsung membereskan barang-barangku dan beranjak cepat-cepat menuju ke luar sekolah.
“Brandon, tunggu bentar. gue mau ngomong.” ujar suara yang sangat kukenal.
yak, betul sekali. Chika yang manggil. tapi tanpa memperdulikannya aku terus berjalan keluar sekolah sambil mempercepat langkah. hari ini memang tumben-tumbennya aku keluar duluan. kalo bukan gara-gara insiden memalukan itu tadi, biasanya aku masih nongkrong di kelas dan ngobrol bareng Dani atau Aryo, menunggu geng pulang-ku datang. tapi kali ini aku terpaksa jalan duluan, dan meninggalkan Chika yang sejak tadi memanggilku. perasaanku benar-benar nggak karuan. rasanya aku nggak mau bicara dengannya lagi. dan ternyata itu benar-benar menjadi kenyataan.
“hold on. yes mom?” sapa Amelie, rupanya ibunya yang menelepon.
“sure. it’s just a couple of blocks from here. i’ll be there right away.” kata Amelie kepada ibunya di telepon.
“so. uh, i’m really sorry, but i gotta run. my mom’s waiting.” katanya.
“whoa, what’s the rush? but don’t worry ‘bout me, i’m fine.” tanyaku.
“i dunno, my mom just called, i think she wants me to pick her up.” jelasnya.
“okay then, i hope i can see you again, maybe some other time.” kataku.
“okay, bye.” katanya sambil beranjak pergi.
“bye.” balasku pelan.
kemudian yang terlihat dari Amelie hanya punggungnya. saat dia keluar dari pintu coffee shop. tiba-tiba saja ingatan tentang Priscilla kembali menghantui pikiranku. aku memang sering teringat hal-hal yang tidak mengenakkan kalau lagi sendirian. itulah kenapa aku sangat butuh teman-temanku. mereka sangat membantuku untuk melupakan ingatan-ingatan yang tidak mengenakkan itu.
selama beberapa tahun terakhir ini, hanya sebagian teman-temanku yang tetap setia menemaniku kapan saja. diantaranya ada Daryl dan Sean. lalu Travis Quadrian, temanku dari jaman kuliah yang sejak tahun lalu pindah dan tinggal di Malaysia. jadi sejak dia pindah kita hanya bisa berhubungan lewat Yahoo Messenger. kemudian ada Fergie Fitzgerald dan kakaknya Harry Houseman, mereka juga sama-sama kuliah di MIT, Harry satu jurusan denganku, sementara Fergie di jurusan lain. aku sempat tinggal di rumah mereka dan sempat cukup dekat dengan Mr. dan Mrs. Sommers. mereka memang orang asli sini. kira-kira apa kabar ya mereka.
ah iya. ngga lupa juga, temanku di Jakarta, Utha Andira. aku bertemu Utha secara tidak sengaja di friendster, lalu kita juga sering chatting di Yahoo Messenger. waktu itu sempat waktu aku pulang ke Jakarta dan bertemu dengannya. hanya sekali. ah kalau ingat Jakarta, aku jadi ingat masa lalu. sebenarnya masa laluku pun tidak sepenuhnya menyenangkan. ada sebuah kejadian yang sangat membuatku shock. aduh, kok aku jadi mengingat kejadian ini ya? argh. i can’t help it. ingatan tentang kejadian waktu itu terlintas begitu saja di pikiranku, tanpa permisi..
Brandon Ruffian. 16 tahun. Kelas 3 IPA 2. waktu itu aku lagi doyan-doyannya nge-band. bareng sama Dani, Adi, Aryo, sama Odenk. Dani itu jago main gitar, aku belajar banyak dari dia. Adi jago main bass, tapi aku nggak ada niatan sama sekali buat main bass, kalo Aryo suaranya kaya orang gila, dia bisa nyanyi macem-macem. si Odenk paling jago main drum. kerjaannya mainin stik drum melulu. sampe diomelin guru olahraga gara-gara bawa stik drum pas pelajaran basket (ya iya lah, dodol.) kita berempat sekelas semua, cuma si Odenk yang anak kelas 3 IPS 1 jadi dulu nama band kita “Three+”.
aku pulang sekolah bareng geng yang beda banget sama geng aku nge-band. isinya orang-orang kacau semua. wuah payah deh. bisa nggak maju kalo ikut-ikut mereka terus. yang jangkung namanya Ratno, jago main basket (macam Sawamura di Harlem Beat lah, asli persis banget. semuka-mukanya selicik-liciknya, najis.) yang gendut namanya Ade, aslinya sih Syarifudin, gendut tapi jago main sepatu roda, omongannya sekitar selangkangan terus, gak ada abisnya. yang kecil namanya Adit, anak kelas 2. dia itu paling bego dan paling nggak tau apa-apa. kalo dibo’ongin iya iya aja. nggak pake nanya. kadang-kadang kesian juga sama dia.
sebenernya dari dulu aku pengen banget ngerasain yang namanya punya pacar. kayak apa ya rasanya? aku inget banget pernah dicuekin sama geng pulangku itu gara-gara aku pernah pulang bareng cewek yang kutaksir dan gara-gara itu juga aku jadi digosipin abis-abisan. katanya lupa temen lah. pengkhianat lah. wek. biar sekalian aja aku lepas dari mereka. emang dasar kumpulan orang-orang dodol. pikirku waktu itu. bilang aja sirik, huehehehe.
ada satu orang temen sekelasku, sukanya duduk di belakang, awalnya kuanggap dia biasa-biasa aja, nggak ada yang spesial dari dia, seperti teman-teman sekelas yang lainnya. tapi sejak kejadian ‘kelompok belajar’ itu akhirnya aku jadi berusaha deketin dia. kejadiannya itu waktu Pak Budi lagi ngumunin nama-nama kelompok.
“kelompok 3, anggotanya Brandon, Chika, Fajar, Kurniawan, dan, Risa, yak silahkan berkumpul menurut kelompoknya ya. kelompok 4, Dani, Galih..”
sejak ‘insiden’ itu kita sering belajar bareng, ngerjain tugas bareng, ngumpul bareng. tanpa kusadari, ada perasaan yang beda kalo lagi ngumpul bareng geng pulang, sama kalo lagi ngumpul bareng kelompok belajar. giliran janjian sama geng pulang, kalo gak bisa dateng ya udah, tinggal telpon, maaf-maaf dikit, beres. tapi kalo sama kelompok belajar, beda. apapun kuusahain supaya bisa ngumpul bareng mereka, terutama sama..
entah sejak kapan ya. aku mulai tertarik sama Chika. aku mulai nganggep dia lebih dari sekedar temen sekelas golongan SDSB (Siswa Deretan Sebelah Belakang. apa coba.) atau sekedar temen belajar kelompok yang janjian ketemuan di rumah si anu, atau si itu, ngebahas anu, ngerjain itu. aku ngerasa sesuatu yang beda. setiap ketemu dia, aku selalu deg-degan. nggak jelas. kayaknya aku mulai suka sama dia, mungkin lebih. yang aku rasakan cuma pengen ketemu dia lebih lama. apa aja kulakukan biar bisa ketemu dia terus. walaupun akhirnya aku cuma bisa cengar cengir sambil memandangi wajahnya.
akhirnya aku mulai perhatiin Chika kalo lagi di kelas. baru nyadar, anaknya oke juga ternyata. cakep, pinter, senyumnya manis. sampe suatu hari katanya dia dideketin sama Andi, ketua kelas. awalnya aku ngga nyadar kalo Chika dideketin. aku mulai nyadar sejak si Dani, gitaris bandku itu bilangin aku, dan kebetulan Dani itu duduknya di belakang mejaku. kalo mau nyari Chika di kelas kan musti nengok ke belakang, jadi mau ngga mau musti berpapasan dengan mukanya Dani.
“man, mending lo ngomong langsung aja deh ke Chika, daripada diembat orang duluan, tuh liat.” kata Dani.
“ah rese lo. iya tuh kayaknya lagi dideketin si Andi. tapi gimana dong? gue kan paling ngga bisa ngomong langsung ke cewe.” balasku.
“yah, dibilangin ngeyel sih lo. kalo lo bilang, kemungkinannya kan jadi 50-50, 50% diterima, 50% lagi ditolak. beres kan? daripada lu diemin begini, kemungkinannya apaan? lo ngga akan tahu sebelom lo coba bro.” jelasnya.
“well, you got a point there. bener juga lo. pengen sih gue bilang, tapi lo tau sendiri kan, gue udah bilang tadi, gue paling ngga bisa ngomong langsung sama cewe, apalagi yg gue suka, pasti langsung diserang deg-degan duluan gue.” balasku.
“ah cupu lo. yaudah kalo ngga bisa ngomong langsung, mending lo tulis surat aja gimana?” usulnya.
“wah boleh juga lo. lo pinter juga ya urusan beginian. ngga cuma jago maen gitar, urusan cewe tokcer juga otak lo. kok lo baru sekarang sih ngasih saran yang cemerlang begini, kenapa ngga dari dulu-dulu waktu gue lagi naksir Ferra?” kataku.
“well, you never asked.” jawabnya singkat.
“ah rese lo.” balasku singkat juga.
kemudian kita berdua ketawa-tawa kaya orang bego. so, karena aku orangnya nggak bisa ngomong langsung ke dia, dan atas dasar ide cemerlang dari si Dani, akhirnya aku nulis surat buat Chika. dan ternyata nulis surat pun sama susahnya dengan ngomong langsung. aku menghabiskan 5 jam buat nulis surat yang isinya cuma 7 baris. 8 deh kalo tulisan “dear Chika,” yang ada di paling atas itu dihitung juga. akhirnya aku tidur nyenyak jam 2 pagi. damn. sekolah kan masuk jam 7.
oke. keesokan harinya akhirnya surat itu aku taruh di laci mejanya pas istirahat siang. tapi apa yang terjadi bener-bener bikin aku shock. sekembalinya aku dari kantin, dari deket kelas terdengar anak-anak pada ribut. Dani dan Aryo ada di luar kelas.
“man, ke kantin yok, sampe pelajaran mulai.” kata Dani.
“lah, gue baru dari kantin kali. itu ada apaan sih ribut-ribut di dalem? Farid ya?” kataku sambil ngintip ke dalam kelas. Chika ada di dalam.
“udeh pokoknya lo jangan masuk kelas dulu, daripada” kata Aryo.
“daripada apaan?” tanyaku.
tiba-tiba terdengar suara Farid. suaranya keras sekali. dan apa yang dikatakannya membuatku kaget setengah mati. karena kata-kata yang diucapkannya itu baru saja aku tulis tadi malam. kata-kata yang sampai jam 2 pagi aku pikirkan. kata-kata di surat itu.
“dear Chika, mungkin di mata elo, gue cuma temen sekelas biasa aja, tapi akhir-akhir ini gue mulai ngerasa ada sesuatu yang beda. gue mulai nggak bisa ngelupain elo. kalo gue nggak ketemu elo rasanya ada yang kurang. mungkin gue kangen.” kata Farid.
what the hell? kok surat itu bisa ada di tangan Farid? mati aku. ini sih bukan cuma Chika, seluruh kelas pasti tahu aku suka sama dia. mati. mati. mati. rasanya seperti ingin hilang ditelan bumi.
“gue suka sama elo. elo mau nggak jadi pacar gue? gue serius mau jadian sama elo. gue tunggu jawaban elo secepatnya. gue percaya, elo pasti ngasih jawaban terbaik, makasih.” kata Farid, menyelesaikan isi suratku yang dibacanya.
“ciyeeeee Brandon. suit suit!!” seluruh kelas langsung menyoraki. ah gila, aku malu setengah mati. dan di tengah-tengah keributan itu tiba-tiba Chika datang menghampiriku. sepertinya dia ingin memberitahu sesuatu padaku. semoga ini berita bagus, pikirku. tapi ternyata, suara yang terdengar dari mulutnya hanya..
“maaf ya.” katanya singkat.
aku bengong, tapi kepalaku mengangguk dengan sendirinya. ingin rasanya berteriak di depan mukanya “maaf?! maaf buat apa?! maaf gue nggak bisa jadi pacar lo?! tapi bukan berarti lo bisa permaluin gue kaya gini dong! gue juga manusia!!” ugh. dadaku sakit. rasanya mau pecah. yang aku tahu, Chika sengaja membiarkan Farid membaca surat itu di depan anak-anak. Chika sengaja mau membuatku malu didepan anak-anak. ya iya lah. mana mungkin Chika punya perasaan apa-apa kepadaku.
kemudian bel istirahat selesai berbunyi. sepanjang pelajaran sampai bel pulang aku hanya diam saja. aku tidak menengok ke belakang sedikitpun. bahkan Dani yang memanggilku dari belakang pun aku cuekin. rasanya ingin cepat-cepat pulang, membenamkan kepalaku di dalam bantal. hari itu, waktu berlalu lambat sekali. menunggu dering bel pulang terasa lebih lama dari biasanya. begitu bel terkutuk itu berbunyi, tanpa pikir panjang aku langsung membereskan barang-barangku dan beranjak cepat-cepat menuju ke luar sekolah.
“Brandon, tunggu bentar. gue mau ngomong.” ujar suara yang sangat kukenal.
yak, betul sekali. Chika yang manggil. tapi tanpa memperdulikannya aku terus berjalan keluar sekolah sambil mempercepat langkah. hari ini memang tumben-tumbennya aku keluar duluan. kalo bukan gara-gara insiden memalukan itu tadi, biasanya aku masih nongkrong di kelas dan ngobrol bareng Dani atau Aryo, menunggu geng pulang-ku datang. tapi kali ini aku terpaksa jalan duluan, dan meninggalkan Chika yang sejak tadi memanggilku. perasaanku benar-benar nggak karuan. rasanya aku nggak mau bicara dengannya lagi. dan ternyata itu benar-benar menjadi kenyataan.
Wednesday, April 04, 2007
putar balik waktu-ku
putar balik waktu-ku
saat mulai ku berkata "a"
hingga berlari dan tersandung
menangis dan meraung
putar balik waktu-ku
saat mulai ku mengenal bahagia
hingga meneteskan air mata
tak ingin berakhir begitu saja
putar balik waktu-ku
saat mulai ku berkata tidak
hingga habis segala rindu
musnah manis di dalam madu
putar balik waktu-ku
saat mulai ku merangkai mawar
hingga kali ini pun masih sama
tapi kali ini untuk siapa?
putar balik waktu-ku
saat mulai ku bertemu dengan-mu
bondanrastika@4/4/07 - 8:39 AM [dimanakah, -mu?]
saat mulai ku berkata "a"
hingga berlari dan tersandung
menangis dan meraung
putar balik waktu-ku
saat mulai ku mengenal bahagia
hingga meneteskan air mata
tak ingin berakhir begitu saja
putar balik waktu-ku
saat mulai ku berkata tidak
hingga habis segala rindu
musnah manis di dalam madu
putar balik waktu-ku
saat mulai ku merangkai mawar
hingga kali ini pun masih sama
tapi kali ini untuk siapa?
putar balik waktu-ku
saat mulai ku bertemu dengan-mu
bondanrastika@4/4/07 - 8:39 AM [dimanakah, -mu?]
Monday, April 02, 2007
you never asked | part four
“hi, sorry to keep you waiting.” kataku pada Amelie sambil menjabat tangannya.
“oh no, it’s ok, i just got here too anyway.” jawab Amelie.
“oh really, hey what are you having there?” tanyaku.
“umm, baked chocolate chip muffin and black espresso.” jawabnya.
“i see. hey Larry! i’ll have tuna sandwich and belgian chococoffee milk” kataku.
“no kidding. you have belgian chococoffee milk? that’s the reason i always come to Bosworth’s Cafe across your place.” tanya Amelie, terkejut.
“oh it’s a long story. so it’s way before i graduated. we go way back. i’m a student here at MIT. one day i happen to be at Bosworth’s, waiting for Daryl. and i ordered that belgian chococoffee milk. and what can i say, i totally fall in love with it. so when i opened this coffee shop, i made my own belgian chococoffee milk. and it’s great. but i don’t normally sell them to my customers.” jelasku.
“how come i didn’t see that on the menu?” tanya Amelie.
“you never asked..” jawabku singkat.
“hahaha..” Amelie tertawa.
“hey Larry! another belgian chococoffee milk for this lady please!” kataku pada Larry di ujung sana.
“coming right up!” ujar Larry.
“don’t worry, it’s on me” kataku pada Amelie.
“thanks.. hee hee.. so where’s Daryl? i didn’t see him since i got here..” tanya Amelie.
“oh, Daryl’s at the gameshop with Sean. they probably wouldn't want any disturbance up until this evening, cos Sean's bringing a new PS3 home with him.” jelasku.
“owh, that prick. he’s starting to get on my nerves. shouldn’t he be leaving any messages to me? argh.” balasnya agak kesal.
“oh well, like it or not, i guess you’re stuck here with me, hahaha..” kataku.
“yeah, at least i get a good treat of that belgian chococoffee milk of yours, hahaha..” jawabnya sambil tertawa ringan.
“here you go.” kata Larry sambil menyuguhkan pesanan Amelie kepadanya.
“thanks Larry. i’ll take it from here. so, what is it that you wanna talk about with Daryl?” tanyaku.
“oh, i was going to talk about my trip to Indonesia, particularly Jakarta.” jawabnya.
“no kidding. i AM from Jakarta. say, what business are you doing there?” tanyaku lagi.
“oh it’s just a research, nothing important.” jawabnya. aku tahu pasti ada yang disembunyikannya dariku.
“research? no way. c’mon, there must be something else. you know, you can hide it, but i still gonna know. well, as far as i know, trust me, there’s nothing worth of a good research there.” balasku.
“did you say you were from Jakarta?” tanyanya.
“yup. i’m pretty much Indonesian, myself. what’s about it?” jawabku sambil menunggu pertanyaan yang sudah kuduga akan ditanyakannya.
“so you can speak a little bit of Bahasa Indonesia? would you care to teach me how?” tanyanya.
“well, not little, as a matter of fact, i know Bahasa Indonesia quite well, since i’ve been receiving phone calls from my family back there. so what brings you to ask me to teach you?” balasku.
“okay. let’s try speak Indonesian for a while. i need you to teach me how to pronounce it well.” kata Amelie.
“oooww..kaaayy.. but, what for? c’mon, there’s gotta be a reason behind this. i’ll teach you, but you have to fill me in. deal?” kataku.
“owh, you’re just the same with Daryl, aren’t you. i’ll fill you in, later. first, you gotta teach me how. this is interesting, you know.” katanya.
“tch, ya udah. terserah lah.” kataku.
“huh? what was that you said?” tanya Amelie kebingungan.
“oh, i said.. ya udah. terserah lah. it’s what you pronounce in english as fine, whatever.” jawabku.
“wow, nice. tell me something else.” pintanya.
“ok, let’s just put it this way.. ngapain kamu ke Jakarta? bilang sejujurnya ya?” balasku.
“what does that mean?” tanyanya.
“in english, it means, what are you doing in Jakarta? tell me the truth, ok?” jawabku.
“hmm.. nice try. ok, how do you say.. i want to meet someone in Jakarta?” tanyanya.
“ok, that’ll be.. aku mau ketemu seseorang di Jakarta.” balasku.
“whoa.. you’re good at pronouncing it” tanyanya.
“of course.. i’m indonesian, duh. ehem.. [clears throat] jadi, siapa yang mau kamu temui di Jakarta? keluarga? temen? atau.. pacar? that’ll be.. so, who do you want to see in Jakarta? family? friend? or.. boyfriend?” tanyaku.
“whoa there, slow down.. how do you say family and friend in Indonesian again?” tanyanya balik.
“it’s keluarga and temen. and you haven’t answer my question” jawabku.
“ok, that’s a new one. oh, by the way it’s just a friend.” jawabnya.
“a friend. not a boyfriend?” tanyaku.
“really, just a friend.” jawabnya.
lalu aku tertawa kecil dan kami saling berpandangan sejenak. susah rasanya untuk tidak me-maintain eye contact dengan perempuan secantik Amelie. rasanya aku ingin terus menatapnya. melihat ke dalam bola matanya. sampai akhirnya, mendadak aku blank. tak tahu harus berkata apa. tak tahu harus melakukan apa. mendadak bayangan Priscilla muncul lagi di depan mataku. damn it. what should i do?
“oh no, it’s ok, i just got here too anyway.” jawab Amelie.
“oh really, hey what are you having there?” tanyaku.
“umm, baked chocolate chip muffin and black espresso.” jawabnya.
“i see. hey Larry! i’ll have tuna sandwich and belgian chococoffee milk” kataku.
“no kidding. you have belgian chococoffee milk? that’s the reason i always come to Bosworth’s Cafe across your place.” tanya Amelie, terkejut.
“oh it’s a long story. so it’s way before i graduated. we go way back. i’m a student here at MIT. one day i happen to be at Bosworth’s, waiting for Daryl. and i ordered that belgian chococoffee milk. and what can i say, i totally fall in love with it. so when i opened this coffee shop, i made my own belgian chococoffee milk. and it’s great. but i don’t normally sell them to my customers.” jelasku.
“how come i didn’t see that on the menu?” tanya Amelie.
“you never asked..” jawabku singkat.
“hahaha..” Amelie tertawa.
“hey Larry! another belgian chococoffee milk for this lady please!” kataku pada Larry di ujung sana.
“coming right up!” ujar Larry.
“don’t worry, it’s on me” kataku pada Amelie.
“thanks.. hee hee.. so where’s Daryl? i didn’t see him since i got here..” tanya Amelie.
“oh, Daryl’s at the gameshop with Sean. they probably wouldn't want any disturbance up until this evening, cos Sean's bringing a new PS3 home with him.” jelasku.
“owh, that prick. he’s starting to get on my nerves. shouldn’t he be leaving any messages to me? argh.” balasnya agak kesal.
“oh well, like it or not, i guess you’re stuck here with me, hahaha..” kataku.
“yeah, at least i get a good treat of that belgian chococoffee milk of yours, hahaha..” jawabnya sambil tertawa ringan.
“here you go.” kata Larry sambil menyuguhkan pesanan Amelie kepadanya.
“thanks Larry. i’ll take it from here. so, what is it that you wanna talk about with Daryl?” tanyaku.
“oh, i was going to talk about my trip to Indonesia, particularly Jakarta.” jawabnya.
“no kidding. i AM from Jakarta. say, what business are you doing there?” tanyaku lagi.
“oh it’s just a research, nothing important.” jawabnya. aku tahu pasti ada yang disembunyikannya dariku.
“research? no way. c’mon, there must be something else. you know, you can hide it, but i still gonna know. well, as far as i know, trust me, there’s nothing worth of a good research there.” balasku.
“did you say you were from Jakarta?” tanyanya.
“yup. i’m pretty much Indonesian, myself. what’s about it?” jawabku sambil menunggu pertanyaan yang sudah kuduga akan ditanyakannya.
“so you can speak a little bit of Bahasa Indonesia? would you care to teach me how?” tanyanya.
“well, not little, as a matter of fact, i know Bahasa Indonesia quite well, since i’ve been receiving phone calls from my family back there. so what brings you to ask me to teach you?” balasku.
“okay. let’s try speak Indonesian for a while. i need you to teach me how to pronounce it well.” kata Amelie.
“oooww..kaaayy.. but, what for? c’mon, there’s gotta be a reason behind this. i’ll teach you, but you have to fill me in. deal?” kataku.
“owh, you’re just the same with Daryl, aren’t you. i’ll fill you in, later. first, you gotta teach me how. this is interesting, you know.” katanya.
“tch, ya udah. terserah lah.” kataku.
“huh? what was that you said?” tanya Amelie kebingungan.
“oh, i said.. ya udah. terserah lah. it’s what you pronounce in english as fine, whatever.” jawabku.
“wow, nice. tell me something else.” pintanya.
“ok, let’s just put it this way.. ngapain kamu ke Jakarta? bilang sejujurnya ya?” balasku.
“what does that mean?” tanyanya.
“in english, it means, what are you doing in Jakarta? tell me the truth, ok?” jawabku.
“hmm.. nice try. ok, how do you say.. i want to meet someone in Jakarta?” tanyanya.
“ok, that’ll be.. aku mau ketemu seseorang di Jakarta.” balasku.
“whoa.. you’re good at pronouncing it” tanyanya.
“of course.. i’m indonesian, duh. ehem.. [clears throat] jadi, siapa yang mau kamu temui di Jakarta? keluarga? temen? atau.. pacar? that’ll be.. so, who do you want to see in Jakarta? family? friend? or.. boyfriend?” tanyaku.
“whoa there, slow down.. how do you say family and friend in Indonesian again?” tanyanya balik.
“it’s keluarga and temen. and you haven’t answer my question” jawabku.
“ok, that’s a new one. oh, by the way it’s just a friend.” jawabnya.
“a friend. not a boyfriend?” tanyaku.
“really, just a friend.” jawabnya.
lalu aku tertawa kecil dan kami saling berpandangan sejenak. susah rasanya untuk tidak me-maintain eye contact dengan perempuan secantik Amelie. rasanya aku ingin terus menatapnya. melihat ke dalam bola matanya. sampai akhirnya, mendadak aku blank. tak tahu harus berkata apa. tak tahu harus melakukan apa. mendadak bayangan Priscilla muncul lagi di depan mataku. damn it. what should i do?
catatan antara tiga dan empat | finding my reasons for living
running in place. mungkin hanya itu yang selama ini saya lakukan. tak beranjak dari tempat berdiri yang tadi. rasanya seperti hilang di dalam waktu. sesaat memang terasa menyenangkan, namun lama-lama bosan juga. sepertinya sudah saatnya mencari sesuatu yang baru. bertemu dengan orang-orang baru. melakukan hal-hal baru. menulis puisi-puisi dan lagu-lagu baru. mungkin untuk seseorang yang baru, entah siapa. masih belum terpikirkan. yang ada dalam pikiran sekarang hanya, mungkin lebih mudah melakukan segalanya saat sendirian. paling tidak untuk saat seperti sekarang ini. toh saya masih punya banyak teman, hehehe.. "i'll be lonely but i know i'll be okay. good love is on the way."
hmm.. sepertinya di empat ini akan banyak pengeluaran. harus beli hp CDMA yg baru, atau mungkin beli iPod nano, soalnya iPod yg gede ini makin lama makin males bawa2nya, huh. mana isinya berantakan pula. jadi males milih-milih lagunya. lagian yang didengerin juga lagu yang itu-itu saja. atau beli accessories MacBook Pro. mungkin juga beli external case buat harddisk yang lagi nganggur di rumah, lumayan, bisa nambah space 160GB lagi. ah iya, sampai sekarang di rumah belum bisa pasang internet. ngga papa juga sih kalo cuma pake telkomnet instan, kalo cuma buat chatting sama friendster-an, hehehe.. tapi ngga bisa buat download. hmm.. mungkin juga mau beli accessories buat Nintendo DS Lite. paling ngga beli casing Black Horns atau soft case nya, jadi dibawa2nya lebih enak. aduh kalo udah gini lama-lama pengen beli Nintendo Wii juga nih. arrrgh.. mau semuanyaaa.. (tapi duitnya darimanaaa..)
[Bondan, 2 April 2007, 7:18 PM, sambil ngelap2 DS dan MacBook Pro sampe kinclong..]
hmm.. sepertinya di empat ini akan banyak pengeluaran. harus beli hp CDMA yg baru, atau mungkin beli iPod nano, soalnya iPod yg gede ini makin lama makin males bawa2nya, huh. mana isinya berantakan pula. jadi males milih-milih lagunya. lagian yang didengerin juga lagu yang itu-itu saja. atau beli accessories MacBook Pro. mungkin juga beli external case buat harddisk yang lagi nganggur di rumah, lumayan, bisa nambah space 160GB lagi. ah iya, sampai sekarang di rumah belum bisa pasang internet. ngga papa juga sih kalo cuma pake telkomnet instan, kalo cuma buat chatting sama friendster-an, hehehe.. tapi ngga bisa buat download. hmm.. mungkin juga mau beli accessories buat Nintendo DS Lite. paling ngga beli casing Black Horns atau soft case nya, jadi dibawa2nya lebih enak. aduh kalo udah gini lama-lama pengen beli Nintendo Wii juga nih. arrrgh.. mau semuanyaaa.. (tapi duitnya darimanaaa..)
[Bondan, 2 April 2007, 7:18 PM, sambil ngelap2 DS dan MacBook Pro sampe kinclong..]
Friday, March 23, 2007
catatan antara dua dan tiga | drifting apart, aren't we?
they keep coming. one brick after another. hitting my head like hell. i didn't have enough time to dodge them all. some i can dodge, but some other found their way and smacked my head pretty bad. one of them is.. the brick from that big wall. well, just like what peter parker learned. you can't save the whole world at the same time. sometimes, you just have to let it be..
sibuk. hanya itu yang terjadi dalam tiga kali ini. kerjaan dateng ngga berenti2. bahkan sampai saya ngga sempet kemana2, ngapa2in, ngga sempet ngabarin kalo hp saya rusak, ngga sempet ketemu, ngga ada waktu buat diri sendiri.. dan bahkan ngga ada waktu untuk menulis ini. padahal sebentar lagi sudah mau empat. (taeah kenapa ini lagunya tiba2 ganti jadi Five For Fighting - Dying sih.. ganti ah..) hmm.. udah lama ngga dengerin si John. Covered In Rain. i wish i could get covered in rain right now. but there's no rain pouring. come to think about it. it's been a long time since i played my guitar.. last time i did, i wrote a song for someone. it's entitled "stay". but the person that i wrote the song for, said that she couldn't stay any longer..
for this once, i'm tired of being a person who has to explain it all when people ask me questions. "what happened?" "did you bla bla bla?" "how could that be?" "is it true?" "how did it happened?" stop asking me questions. i'm not okay, so stop asking me questions. i don't even know the answers. i don't blame you, i don't blame myself, i don't blame the situation. i guess it can't be helped. we've reached the end of the road. so this time is really parting of the ways. Sorry Brandon, i never get a chance to write about you and Nikki. maybe later, i'll bring someone else.. like what John Legend said.. "don't be afraid of a little bit of pain, pleasure is on the other side.."
thank you for everything,
i promise i'll be a good friend,
Nikki..
[Bondan, 22 Maret 2007, 09:53 PM, sambil bingung, main Castlevania, atau mberesin kerjaan ya..? halah, ngerokok dulu lagi aja lah..]
sibuk. hanya itu yang terjadi dalam tiga kali ini. kerjaan dateng ngga berenti2. bahkan sampai saya ngga sempet kemana2, ngapa2in, ngga sempet ngabarin kalo hp saya rusak, ngga sempet ketemu, ngga ada waktu buat diri sendiri.. dan bahkan ngga ada waktu untuk menulis ini. padahal sebentar lagi sudah mau empat. (taeah kenapa ini lagunya tiba2 ganti jadi Five For Fighting - Dying sih.. ganti ah..) hmm.. udah lama ngga dengerin si John. Covered In Rain. i wish i could get covered in rain right now. but there's no rain pouring. come to think about it. it's been a long time since i played my guitar.. last time i did, i wrote a song for someone. it's entitled "stay". but the person that i wrote the song for, said that she couldn't stay any longer..
for this once, i'm tired of being a person who has to explain it all when people ask me questions. "what happened?" "did you bla bla bla?" "how could that be?" "is it true?" "how did it happened?" stop asking me questions. i'm not okay, so stop asking me questions. i don't even know the answers. i don't blame you, i don't blame myself, i don't blame the situation. i guess it can't be helped. we've reached the end of the road. so this time is really parting of the ways. Sorry Brandon, i never get a chance to write about you and Nikki. maybe later, i'll bring someone else.. like what John Legend said.. "don't be afraid of a little bit of pain, pleasure is on the other side.."
thank you for everything,
i promise i'll be a good friend,
Nikki..
[Bondan, 22 Maret 2007, 09:53 PM, sambil bingung, main Castlevania, atau mberesin kerjaan ya..? halah, ngerokok dulu lagi aja lah..]
Thursday, February 15, 2007
catatan antara satu dan dua | one goal accomplished
dua ini biasanya adalah saat favorit saya selama the whole twelve. kenapa? hei. dua ini ulang tahun saya lho. tepatnya di tujuh belas nanti. (btw ini si Keith Urban suaranya oke juga.. banyak artis baru euy..) saya sempet stuck di lagu Once In A Lifetime nya. oh iya, ada satu lagi, Andra & The Backbone juga top berat. sayang cuma sempet beli kasetnya, nanti deh kalo ada waktu beli CD nya juga, terus masukin di iTunes, hahaha.. maap ndra, abisnya mau saya masukin ke iPod sih.. maap yah.. anyway. (cieh mulai sok serius gini ceritanya..) akhir2 ini saya makin menemukan arah perjalanan saya. saya tahu mau kemana. melihat2 sekolah film, merencanakan untuk mengambil kuliah lagi dan mendapat sertifikasi, lalu mengejar cita2 membuat film sendiri. saat ini sudah ada satu cita2 saya yang tercapai, yaitu punya sebuah komputer Mac yang bisa dipake buat ngedit video, DAN bisa saya bawa kemana2. yup. meet my new MacBook Pro 17" (ternyata guede juga ya.. ngga nyangka bakal segede ini sih..) but it's cool. jadi bisa gaya2an kalo lagi nongkrong di starbucks atau coffee bean, halah.. dan otomatis juga, practically, now i can bring my office anywhere i go. bener2 cukup dengan MacBook Pro, dan handycam mini dv buat capture, and it's done. i can work ANYWHERE. and i mean anywhere. di rumah, di tempat nongkrong, di rumah aji, di mana aja. it's an editor's heaven. satu yg saya bete sama Macbook ini. kenapa Apple jual dial-up modemnya dipisah sih??? huh. sebel. padahal di PowerBook yg 15 inch aja dulu ada built in modemnya. masa ini yg 17 inch malah ngga ada. huuuh.. bete. jadi ngga bisa internetan dari rumah deh. musti nebeng dimana2 huahahaha.. kayaknya saya masih akan stuck di rumahnya aji untuk waktu yang lebih lama lagi, hahaha..
anyway.. barusan aja saya selesai meng-update software dan Pro Applications yang ada di MacBook. horee, Motion dan Compressornya akhirnya bisa jalan dengan normal. ternyata musti di-update dulu. akhirnya lengkap deh Pro Application yang ada di MacBook. Aperture, Final Cut Studio, Photoshop CS2, dan segala tools buat download itu, Limewire, iGetter, sama BitRocket. dan incredibly, saya masih menyisakan 55GB harddisk space di MacBook saya. cukup buat 1 project video kecil, mungkin sekitar 2 sampai 4 tape bisa masuk lah, selebihnya kan tinggal beli harddisk eksternal, dan kayaknya musti nunggu pembayaran yang tertunda, hahaha.. perjalanan ke kursi certified director memang ngga gampang. mungkin untuk permulaan, saya mau coba2 ikut N93i You Make It Reel, bareng Ary, Dino, dan Shani. dan sepertinya saya ngga jadi beli CD nya, ndra. maap udah tanggung download. udah kelar sih. jadi udah di-play di iTunes dari tadi, hyahaha.. oh well. saya masih harus mikirin ide buat video N93i ini.
well, it's a long way down. but i'm not giving up, yet. or ever.
[Bondan, 15 Februari 2007, 13:50 PM, sambil nonton Dino bunuh2in zombie di Willamette Parkview Mall. telat ya? maklum lagi males nulis, hahaha.]
anyway.. barusan aja saya selesai meng-update software dan Pro Applications yang ada di MacBook. horee, Motion dan Compressornya akhirnya bisa jalan dengan normal. ternyata musti di-update dulu. akhirnya lengkap deh Pro Application yang ada di MacBook. Aperture, Final Cut Studio, Photoshop CS2, dan segala tools buat download itu, Limewire, iGetter, sama BitRocket. dan incredibly, saya masih menyisakan 55GB harddisk space di MacBook saya. cukup buat 1 project video kecil, mungkin sekitar 2 sampai 4 tape bisa masuk lah, selebihnya kan tinggal beli harddisk eksternal, dan kayaknya musti nunggu pembayaran yang tertunda, hahaha.. perjalanan ke kursi certified director memang ngga gampang. mungkin untuk permulaan, saya mau coba2 ikut N93i You Make It Reel, bareng Ary, Dino, dan Shani. dan sepertinya saya ngga jadi beli CD nya, ndra. maap udah tanggung download. udah kelar sih. jadi udah di-play di iTunes dari tadi, hyahaha.. oh well. saya masih harus mikirin ide buat video N93i ini.
well, it's a long way down. but i'm not giving up, yet. or ever.
[Bondan, 15 Februari 2007, 13:50 PM, sambil nonton Dino bunuh2in zombie di Willamette Parkview Mall. telat ya? maklum lagi males nulis, hahaha.]
Tuesday, January 02, 2007
terima kasih
Tak terbayangkan sebelumnya
Entah sejak kapan
Ramah wajah itu
Indah menghias langit hatiku
Menghantui setiap malamku
Akhirkah ini pencarianku?
Kapankah bisa kusaksikan?
Akankah bisa kurasakan?
Sampai hari ini pun
Inginku terbang melayang
Hanyut dalam setiap HURUF dari nama-mu
Nurani hati seorang perempuan
Ukirkan janji, sebuah penuturan
Rindu aku akan perjumpaan kita
Rangkul aku dalam suka dan duka
Yakinkan aku untuk mengucap
...
[bacalah dari ATAS ke BAWAH, dan kau akan mengerti]
bondanrastika@2/1/07 - 331 [terima kasih sudah melukis di DEPAN pintu hatiku]
Entah sejak kapan
Ramah wajah itu
Indah menghias langit hatiku
Menghantui setiap malamku
Akhirkah ini pencarianku?
Kapankah bisa kusaksikan?
Akankah bisa kurasakan?
Sampai hari ini pun
Inginku terbang melayang
Hanyut dalam setiap HURUF dari nama-mu
Nurani hati seorang perempuan
Ukirkan janji, sebuah penuturan
Rindu aku akan perjumpaan kita
Rangkul aku dalam suka dan duka
Yakinkan aku untuk mengucap
...
[bacalah dari ATAS ke BAWAH, dan kau akan mengerti]
bondanrastika@2/1/07 - 331 [terima kasih sudah melukis di DEPAN pintu hatiku]
Monday, January 01, 2007
catatan antara duabelas dan satu | back to where i used to be
eh ada gosip baru, Brandon jadian lho sama Nikki. lho, Nikki itu siapa? Nikki Danielle Ambersong. salah seorang temennya Daryl dan Raine. dan ternyata Nikki juga kenal sama Amelie. nah lho kok? bingung kan? wah pokoknya seru deh, it happened so fast dan saya tidak sabar untuk kembali menulis "you never asked". mudah2an Nikki bisa membantu saya. pastinya, hahaha.. wah. wah. wah. sangat tidak disangka. akhirnya semua yang hilang dalam hidup saya, kembali lagi pada detik2 terakhir duabelas menuju satu. di sebuah malam, tidak lama setelah saya menulis postingan sebelum ini (baca juga : in my time of desperation) saya benar2 terkejut karena diam2 ada seseorang yang mau mendengar jeritan hati saya (idih dangdut amat sih). namun saya masih takut untuk melewati perbatasan antara teman dan pacar. dan sepertinya saya juga belum siap kalau harus bilang sekarang. takutnya tersakiti lagi gara2 ditolak, atau mungkin yang lebih sakit, dicuekin. mungkin terlalu cepat kalau saya mengatakan "aku sayang kamu". ketemu aja jarang, kenal juga baru seminggu - dua minggu. akhirnya saya hanya mengatakan "iya, gue suka sama lo", tanpa mengharap apa2. namun kemudian setelah beberapa jam bertukar suara di telepon, saya jadi mengetahui perasaan dia yang sebenarnya terhadap saya. sebenarnya tadi ada satu hal yang saya tidak jujur padanya. saya mengatakan bahwa saya hanya menyukainya, padahal sebenarnya saya pun sudah jatuh cinta dan sudah merasakan keinginan untuk bisa menyayanginya. ternyata memang dia juga merasakan perasaan yang sama, dan kita berdua memang sama2 takut untuk melewati border itu.
salah seorang teman baik saya pernah mengatakan, "if you can't quit, then don't start". mungkin kita sama2 takut sakit dan menyakiti perasaan masing2. karena ada sebuah perbedaan yang mungkin bisa menuntun kita ke jalan buntu. dan mungkin akan memaksa kita untuk "quit". so if you can't "quit" later, or whenever the time comes, then don't "start" the relationship. tapi toh selama sakit itu bisa ditunda, kenapa tidak? lagipula saya sudah terlanjur "start" untuk sayang sama dia, dan untuk saat ini, sampai saat ini pun saya belum bisa "quit" sayang sama dia. dan dia pun begitu. akhirnya setelah pemikiran yang cukup panjang, kita memutuskan untuk mencoba melewati border itu. tanpa ada rasa keberatan dan ragu2, saya pun maju, mendaki kembali ke puncak kehidupan saya yang dulu pernah saya capai. Uwie, terima kasih, aku sayang kamu. tanpa kamu, detik2 antara duabelas dan satu pasti tak akan bisa seindah kemarin. mudah2an segala yang ingin kita capai bisa terwujud. may all our wishes come true. and then our story begins at the end of 2006, at the start of 2007. as well as Brandon and Nikki, not forgetting Daryl and Raine, i can only wish the best for both of them. Ut, sorry ya, gue duluan, hehehe.
salah seorang teman baik saya pernah mengatakan, "if you can't quit, then don't start". mungkin kita sama2 takut sakit dan menyakiti perasaan masing2. karena ada sebuah perbedaan yang mungkin bisa menuntun kita ke jalan buntu. dan mungkin akan memaksa kita untuk "quit". so if you can't "quit" later, or whenever the time comes, then don't "start" the relationship. tapi toh selama sakit itu bisa ditunda, kenapa tidak? lagipula saya sudah terlanjur "start" untuk sayang sama dia, dan untuk saat ini, sampai saat ini pun saya belum bisa "quit" sayang sama dia. dan dia pun begitu. akhirnya setelah pemikiran yang cukup panjang, kita memutuskan untuk mencoba melewati border itu. tanpa ada rasa keberatan dan ragu2, saya pun maju, mendaki kembali ke puncak kehidupan saya yang dulu pernah saya capai. Uwie, terima kasih, aku sayang kamu. tanpa kamu, detik2 antara duabelas dan satu pasti tak akan bisa seindah kemarin. mudah2an segala yang ingin kita capai bisa terwujud. may all our wishes come true. and then our story begins at the end of 2006, at the start of 2007. as well as Brandon and Nikki, not forgetting Daryl and Raine, i can only wish the best for both of them. Ut, sorry ya, gue duluan, hehehe.
[Bondan, 1 Januari 2007, 11:04 PM, saya? hmm.. kita. i'm starting to like that word. now this is more like it.]
Thursday, December 28, 2006
in my time of desperation
[Current iPod Track : John Legend - Save Room]
hebat. sudah lama sekali gue ngga ngerasa kayak gini. memang, kejadian2 belum lama ini membuat kata2 "nothing can ruin my good mood for the rest of 2006" selalu menempel di status yahoo messeger gue. (temen2 ym gw pasti tahu lah..) maklum, lagi diserang badai. gue ngga tahu istiah atau namanya apa, tapi yang pasti bukan adrenalin. karena yang satu ini bikin seneng, bukan bikin jantungan. seperti tabrakan beruntun yang menghantam gue dari semua arah. mungkin triggernya adalah ipod gue. lalu temen2 gue. kemudian kerjaan gue. dan yang terakhir, sepertinya gue lagi suka sama seseorang. asli ini senengnya ngga ketulungan. belum beberapa lama ini juga sebenernya gue sempet suka sama seseorang yang lain. and i thought i've done everything i could, just to show myself. cuma mungkin karena respon yang kurang sesuai dengan harapan, jadi sepertinya ngga terlalu work well. dan gue putuskan untuk mundur aja. kalo kata John Legend, "don't be afraid of a little bit of pain, pleasure is on the other side." i'm sure you know who you are. so if you happen to read this, i'm so sorry that i haven't got the chance to talk to you, about this. maybe later when you're not so busy.. or maybe cos right now i'm still trying to find what words to say. it hurts so much that i don't even know how to start a conversation with you. sorry, i need to fix this broken heart and i just want to move on. ok enough with this stuff, bukan ini kok intinya..
[Current iPod Track : Omarion - O]
entah kenapa di suatu malam di ujung duabelas, gue sempet terserang sesuatu yang beda. perasaan ini bukan seperti tabrakan beruntun yang gue ceritain tadi. tetep, datangnya dari semua arah, tapi ini dada gue serasa ditusuk2. dan bayangan tentang dia ngga bisa gue singkirkan sedikitpun. bahkan ngumpul sama temen2 gue pun ngga cukup mengobati sakit dan sesak di dada. sempet beberapa saat juga hampir air mata gue netes tanpa sebab yang jelas. but this is not something that can ruin my mood, i seem to enjoy being in this state. walaupun akhirnya gue meneteskan air mata juga, karena ngga tahan nahan nyeri di dada. tiba2 gue teringat sesuatu. pertama kali gue ngerasa kayak gini.. i knew it. i remember this feeling. i'm missing someone out there. i know i just met her, like.. twice? and the best part (i'm being ironic..) dari perasaan ini adalah : gue ngga bisa bilang ke orangnya kalo gue kangen sama dia. this heart is crying to say "i miss you" but it can't. well, belom mungkin. it's still too early. yah.. tapi namanya perasaan masa bisa bohong sih? ok, gue emang baru aja memutuskan buat mundur dari seseorang. dan ngga lama kemudian gue udah suka sama orang lain. well, mungkin emang gue orangnya begitu. sakit sih sakit, banget. tapi lagi2 gue selalu berpegang ke omongan salah satu temen gue "if it doesn't kill you, then it'll only make you stronger." then again, it works. mungkin gue memang orangnya cepet melupakan segala macem sakit hati. mungkin gue emang gampang suka sama orang. tapi gue juga sebenernya ngga pernah bisa deketin 2 orang dalam waktu yang bersamaan. kalo satu ya satu aja. kalo ngga work well ya sudah, mau apa lagi? cari yang lain lah..
[Current iPod Track : Jason Mraz - 1000 Things]
i know, i'm not that good at approaching someone. cos i'm me. like i said to one of my friends, i'm just trying to be myself. isn't that's what honesty means? if i change the way i talk, just to please someone, wouldn't i be lying to that person? wouldn't i be lying to myself? it's just not the real me, and i just don't like it. i guess i just want other people to notice me as who i really am. tell me, is it so hard just to notice someone's good intention? all i need, all i want was a chance to show you who i really am. you don't have to be a great talker, i just need a good listener. you don't have to be a great lover, i just need someone who can accept me just the way i am. cos nobody's "perfect" and i'm way too far from "perfect". but i can love you in a way that you've never imagined before. so please, notice me. i'll be waiting.
[Bondan, 28 Desember 2006, 12:36 PM, save room for my love, save a little..]
hebat. sudah lama sekali gue ngga ngerasa kayak gini. memang, kejadian2 belum lama ini membuat kata2 "nothing can ruin my good mood for the rest of 2006" selalu menempel di status yahoo messeger gue. (temen2 ym gw pasti tahu lah..) maklum, lagi diserang badai. gue ngga tahu istiah atau namanya apa, tapi yang pasti bukan adrenalin. karena yang satu ini bikin seneng, bukan bikin jantungan. seperti tabrakan beruntun yang menghantam gue dari semua arah. mungkin triggernya adalah ipod gue. lalu temen2 gue. kemudian kerjaan gue. dan yang terakhir, sepertinya gue lagi suka sama seseorang. asli ini senengnya ngga ketulungan. belum beberapa lama ini juga sebenernya gue sempet suka sama seseorang yang lain. and i thought i've done everything i could, just to show myself. cuma mungkin karena respon yang kurang sesuai dengan harapan, jadi sepertinya ngga terlalu work well. dan gue putuskan untuk mundur aja. kalo kata John Legend, "don't be afraid of a little bit of pain, pleasure is on the other side." i'm sure you know who you are. so if you happen to read this, i'm so sorry that i haven't got the chance to talk to you, about this. maybe later when you're not so busy.. or maybe cos right now i'm still trying to find what words to say. it hurts so much that i don't even know how to start a conversation with you. sorry, i need to fix this broken heart and i just want to move on. ok enough with this stuff, bukan ini kok intinya..
[Current iPod Track : Omarion - O]
entah kenapa di suatu malam di ujung duabelas, gue sempet terserang sesuatu yang beda. perasaan ini bukan seperti tabrakan beruntun yang gue ceritain tadi. tetep, datangnya dari semua arah, tapi ini dada gue serasa ditusuk2. dan bayangan tentang dia ngga bisa gue singkirkan sedikitpun. bahkan ngumpul sama temen2 gue pun ngga cukup mengobati sakit dan sesak di dada. sempet beberapa saat juga hampir air mata gue netes tanpa sebab yang jelas. but this is not something that can ruin my mood, i seem to enjoy being in this state. walaupun akhirnya gue meneteskan air mata juga, karena ngga tahan nahan nyeri di dada. tiba2 gue teringat sesuatu. pertama kali gue ngerasa kayak gini.. i knew it. i remember this feeling. i'm missing someone out there. i know i just met her, like.. twice? and the best part (i'm being ironic..) dari perasaan ini adalah : gue ngga bisa bilang ke orangnya kalo gue kangen sama dia. this heart is crying to say "i miss you" but it can't. well, belom mungkin. it's still too early. yah.. tapi namanya perasaan masa bisa bohong sih? ok, gue emang baru aja memutuskan buat mundur dari seseorang. dan ngga lama kemudian gue udah suka sama orang lain. well, mungkin emang gue orangnya begitu. sakit sih sakit, banget. tapi lagi2 gue selalu berpegang ke omongan salah satu temen gue "if it doesn't kill you, then it'll only make you stronger." then again, it works. mungkin gue memang orangnya cepet melupakan segala macem sakit hati. mungkin gue emang gampang suka sama orang. tapi gue juga sebenernya ngga pernah bisa deketin 2 orang dalam waktu yang bersamaan. kalo satu ya satu aja. kalo ngga work well ya sudah, mau apa lagi? cari yang lain lah..
[Current iPod Track : Jason Mraz - 1000 Things]
i know, i'm not that good at approaching someone. cos i'm me. like i said to one of my friends, i'm just trying to be myself. isn't that's what honesty means? if i change the way i talk, just to please someone, wouldn't i be lying to that person? wouldn't i be lying to myself? it's just not the real me, and i just don't like it. i guess i just want other people to notice me as who i really am. tell me, is it so hard just to notice someone's good intention? all i need, all i want was a chance to show you who i really am. you don't have to be a great talker, i just need a good listener. you don't have to be a great lover, i just need someone who can accept me just the way i am. cos nobody's "perfect" and i'm way too far from "perfect". but i can love you in a way that you've never imagined before. so please, notice me. i'll be waiting.
[Bondan, 28 Desember 2006, 12:36 PM, save room for my love, save a little..]
Thursday, December 21, 2006
a memory | reminiscing the town
i was listening to John Mayer's "Love Song For No One", and i just remembered something. ok, let's talk about relationship. let's say you're walkin' around on some place. then you saw a girl. ok, not bad. looks kinda cute. she sweep you off your feet. and then you get to know each other. you said hi, she said hi, and after a little bit of chit chat, you got her name, and her number. and then you called, she picked up. her voices were nice. you float in the air. moments later you said that you're interested in meeting her again. she said she'd love to. bam! you fly higher. the next day, you meet her. she looks stunning. you go on a date and at the end of the day you said that you like her. she said she likes you too. another bam! you fly even higher. you're seeing her everyday. and everyday you said "i like you". until one day, you said, "i love you". and she loves you too. another bigger bam! you fly even higher and higher to the sky. and from that moment, you say "i love you" to her everyday. until one day. you prayed to god. "god, please put a new word in the dictionary which means bigger than just love, cos that's what i feel right now". your feelings for her is bigger and deeper than just love. you simply can't say "i love you" anymore cos it's just too shallow. and you never said those things ever again to her. until one day. she said. "i hate you, more than anything in this world". and then you broke up with her. everything's gone. and you realized that it's all just because of that stupid three words. i. love. you. because of your own stupidity. if you're single, be good to your friends. cos they're people you can count on when you're feeling lonely. when you need a shoulder to cry on. a place where you can share your ups and downs. someone to share a laugh, and someone you can cry with. if you're in a relationship, be good. don't cheat. and don't start a fight over something stupid. don't make yourself regret your own stupidity. and if you love someone, saying "i love you" everyday is already more than enough. cos you'll never realize what you had, until it's all gone.
[Bondan, 21 Desember 2006, 12:08 AM, "i'm tired of being alone.. so hurry up and get here.."]
[Bondan, 21 Desember 2006, 12:08 AM, "i'm tired of being alone.. so hurry up and get here.."]
Friday, December 15, 2006
catatan kecil setengah duabelas | kembali ke titik nol
ada beberapa faktor yang "memaksa" saya untuk menulis catatan kecil ini. tapi beberapa diantaranya tidak bisa saya sebutkan, maklum urusan pribadi (susah deh kalo udah bawa2 yang namanya perasaan.) yaa mungkin faktor2 yang bisa saya sebutkan hanyalah : tangan saya gatal ingin mengetik, dan perasaan dalam hati yang ngga bisa dipendam lebih lama lagi. akhir2 ini menulis menjadi bagian dalam keseharian saya. mulai dari postingan blog yang ngga jelas, puisi2 curahan hati yang sedikit terkesan putus asa. (yah, memang begitu sih..) sampai cerpen iseng2 yang sekarang malah justru jadi banyak yang baca, dan minta saya segera melanjutkan cerita "part four"nya. "bagus kok, terusin aja, sukur2 nanti bisa di publish dibikin novel, kan seru banget" ujar salah satu teman saya beberapa hari yang lalu. entah darimana saya punya ide mau bikin novel segala. mungkin terlalu banyak cerita yang ingin saya share dengan kalian semua. ya harap maklum saja kalau gaya bahasanya masih asal2an. memang tadinya cuma cerpen iseng kok. sempat terpikir untuk tidak melanjutkan lagi cerita Brandon dan Amelie, biarlah semuanya berlanjut dalam pikiran saya sendiri. mungkin nanti akan saya munculkan tokoh lain, huhuhu.. ok, cukup tentang saya yang sedang gatal menulis.
sebenarnya sudah lama sekali saya ingin bertemu dengan seseorang, namun mungkin dia terlalu sibuk dan ngga ada waktu untuk sekedar me-reply message di friendster atau yahoo messenger. dering nada sms alert itu pun sudah cukup lama juga tidak saya dengar sejak setengah sebelas. mungkin blog saya ini pun juga tidak sempat dia baca. setelah beberapa saat lalu saya mencoba dan berusaha untuk "get back to the top of my life" namun entah kenapa saya kembali terjatuh. sakit sekali memang, (ngga papa kok, sudah saya maafkan.) namun begitulah hidup. you'll learn how to live by actually living your life. dan saya selalu berpegang pada kata2 yang diucapkan salah seorang sahabat saya, and it helps a lot. "if it doesn't kill you, then it'll only make you stronger." mungkin ini saatnya saya untuk kembali ke titik nol, dan berusaha menyusun kembali prioritas dalam hidup saya. beberapa waktu lalu Brandon sempat menitipkan pesan kepada saya, tolong sampaikan kepada Amelie, katanya. "say you'll leave if you wanna leave. say you'll stay if you wanna land. say you're there, or anywhere." hahaha.. sepertinya Brandon lagi kangen banget sama Amelie..
[Bondan, 15 Desember 2006, 07:55 PM, trying to get back to the top of my life, again.]
sebenarnya sudah lama sekali saya ingin bertemu dengan seseorang, namun mungkin dia terlalu sibuk dan ngga ada waktu untuk sekedar me-reply message di friendster atau yahoo messenger. dering nada sms alert itu pun sudah cukup lama juga tidak saya dengar sejak setengah sebelas. mungkin blog saya ini pun juga tidak sempat dia baca. setelah beberapa saat lalu saya mencoba dan berusaha untuk "get back to the top of my life" namun entah kenapa saya kembali terjatuh. sakit sekali memang, (ngga papa kok, sudah saya maafkan.) namun begitulah hidup. you'll learn how to live by actually living your life. dan saya selalu berpegang pada kata2 yang diucapkan salah seorang sahabat saya, and it helps a lot. "if it doesn't kill you, then it'll only make you stronger." mungkin ini saatnya saya untuk kembali ke titik nol, dan berusaha menyusun kembali prioritas dalam hidup saya. beberapa waktu lalu Brandon sempat menitipkan pesan kepada saya, tolong sampaikan kepada Amelie, katanya. "say you'll leave if you wanna leave. say you'll stay if you wanna land. say you're there, or anywhere." hahaha.. sepertinya Brandon lagi kangen banget sama Amelie..
[Bondan, 15 Desember 2006, 07:55 PM, trying to get back to the top of my life, again.]
Thursday, December 14, 2006
why can't you just.. | tired
maybe, another day will come sing for me
help me believe in everything i see and i feel
cos i've been down since you come around
you choose to leave, why don't stay a while and see me..
maybe, another love will come and save me
somehow i have to stay alive don't hate me
you stole the pride of my deepest side
and ran away without looking back, you kill me, so heal me..
i've been making love songs, why can't you just love me?
and i've tried to sing it, why cant you just hear me?
i'm cold and hopeless..
i've been saving love songs, why can't you just love me?
and i've tried to sing it, why cant you just hear me?
i'm cold, and i'm hopeless, and i'm cold, and i'm hopeless..
bondanrastika@14/12/06 - 6:06 PM [waiting for another someone who can hear my cries]
help me believe in everything i see and i feel
cos i've been down since you come around
you choose to leave, why don't stay a while and see me..
maybe, another love will come and save me
somehow i have to stay alive don't hate me
you stole the pride of my deepest side
and ran away without looking back, you kill me, so heal me..
i've been making love songs, why can't you just love me?
and i've tried to sing it, why cant you just hear me?
i'm cold and hopeless..
i've been saving love songs, why can't you just love me?
and i've tried to sing it, why cant you just hear me?
i'm cold, and i'm hopeless, and i'm cold, and i'm hopeless..
bondanrastika@14/12/06 - 6:06 PM [waiting for another someone who can hear my cries]
Monday, December 11, 2006
Semalam di Dalmasca
Alkisah sebuah cerita di kerajaan Dalmasca. Aku melihat 3 buah notes yang di-post sama Tavernmaster di bill board Sandsea tavern. 3 buah monster yang sepertinya meresahkan warga sekitar. White Mousse, Ring Wyrm & Marilith. Ah, ini sih kerjaan kecil buat seorang dengan level 34 seperti aku, pikirku. Dengan berani aku terima saja kerjaan buruan-buruan itu.
White Mousse (Rank V)
Pertama-tama aku datang kepada Sorbet, seekor moogle di sekitar West Gate, Rabanastre. Jadi ceritanya si Sorbet ini lagi jalan-jalan di Garamsythe Waterway, lalu kunci waterway-nya jatuh. begitu sadar, ternyata udah dimakan sama si White Mousse ini. Katanya dia liat di sekitar West Sluice Control. Ok, first task is up. Aku berjalan menuju Garamsythe Waterway lewat Lowtown, kota di bawah tanah Rabanastre. Memasuki Garamsythe Waterway, aku sempet kebingungan di Central Waterway Control. Soalnya sebagian jalannya terendam air, jadi ngga bisa lewat. Tapi setelah muter-muter, akhirnya nemu juga jalannya. Sampai di West Sluice Control, aku harus menghabisi beberapa Malboro Overking, cukup merepotkan, tapi masih bisa kuatasi, level 34 nih ye. Aku pun makin percaya diri. Ups, ada Water Elemental disana, mending jangan ganggu deh, monster itu rese banget. HP nya ngga ketauan berapa, udah gitu kebal serangan fisik, sampe sekarang aku masih belum tau cara ngalahinnya pake apa, dududu.. Aku lewat dengan santainya. Sampai akhirnya si White Mousse jelek itu menampakkan diri. Ih jelek bener, tampangnya kaya lendir ngga jelas gitu. Langsung aja aku gebuk. Prak!! Wih!! Damage ku sampe 1000 lebih. tapi kok HP si White Mousse itu berkurangnya nyicil bener yak? Waduh, ini apa lagi? Kok Water Elemental ikut-ikutan nyerang? Ok, this is bad. Aku cabut dari situ, Balthier, Fran dan Larsa juga ikutan cabut. Tapi sayang si Fran koit di tengah jalan, keganjel sama si lendir jelek dan Water Elemental keparat itu, yah disiksa deh. Ya sudahlah hidupin aja lagi nanti kalo udah aman situasinya. Ok, aku kembali ke Central Waterway Control, disini ada Save Crystal. Begitu aku menyentuh Save Crystal itu, Fran langsung hidup lagi. Kayaknya dia ngambek gitu tadi kutinggal, ya sudah, misi berikutnya aku pergi sama Basch dan Lady Ashe sajalah. Oh iya, Larsa masih ikutan ya?
Ring Wyrm (Rank III)
Keluar dari Garamsythe Waterway, mumpung masih di Lowtown, aku mencari orang yang bernama Balzac. Katanya ada di North Sprawl, hmm gampang sekali menemukannya. Balzac bilang, pas dia lagi latihan bersama pasukannya di daerah Windtrace Dunes, Dalmasca Westersand, ada Ring Wyrm yang kuat banget ngga bisa dia kalahin, dan si Ring Wyrm ini nggangguin latihannya. Makanya dia nyari-nyari orang buat bunuh monster yang ukurannya segede-gede alaihim ini. Tapi dia bilang, nongolnya cuma sekali-sekali aja, terutama pas lagi ada badai pasir. Katanya hati-hati, pas badai pasir itu zero visibility. Ah, kecil lah buat level 34. Aku kan dari kemarin udah leveling gila-gilaan. And so I, Basch, Lady Ashe, and Larsa headed west. kita sampai di Dalmasca Westersand, kalo dari Rabanastre itu lewatnya West Gate (ya iyalah, masa mau ke Westersand lewat East Gate, mana nyambung.) Di Galtea Downs ngga ada apa-apa, lanjut ke The Midfault. Hmm, lagi-lagi isinya monster cupu semua. Masa ngga lebih dari 66 EXP? Mendingan hunt di Ozmone Plains tadi deh, masih 300an EXP nya. Next stop is, Windtrace Dunes. Hmm, sepertinya nasib baik, pasti bakal ketemu Ring Wyrm nih, soalnya lagi badai pasir disini, cakep dah. Aku, Basch dan Lady Ashe berjalan terus di tengah-tengah badai pasir yang aduhai. Bener-bener zero visibility nih, kedepan ngga liat apa-apa. Tiba-tiba di depan mata terlihat sesuatu yg guwede segede-gede alaihim (sepertinya ini baru kakinya si Ring Wyrm doang deh.) Ah, ternyata benar, aku langsung maju sendirian. Basch, Lady Ashe dan Larsa ngga mau kalah ternyata. Mereka ikutan maju, tapi tetep disiplin. Kalo ada salah satu dari kita yang HP nya kurang dari 50%, langsung dilemparin Hi-Potion biar penuh lagi HP nya. Setelah pertarungan yang cukup melelahkan (serius nih, hampir setengah jam bunuhnya) akhirnya tumbang juga si Ring Wyrm raksasa itu. Wow, dapet 16 LP. Ok, waktunya melapor ke Balzac. Eit, tunggu dulu. Ini kan kita lagi di Dalmasca Westersand. Kalo ngga salah tadi katanya si Tavernmaster.. Hmm..
Marilith (Rank V)
Sebenarnya orang pertama yang aku datangi untuk nerima kerjaan adalah si Tavernmaster di Sandsea tavern, Rabanastre. Ya secara dia yang paling deket dari yang lain ya aku temuin duluan. Permintaannya agak-agak aneh sih menurutku. Dia meminta sebuah ingredient penting buat bikin wine, yang cuma bisa didapet dari Marilith, monster ular yang ada di Zertinan Caverns, yang letaknya itu di suatu tempat di deket Dalmasca Westersand gitu lah. Pokoknya masuk ke Zertinan Caverns dari Dalmasca Westersand, tepatnya dari Shimmering Horizons, deket-deket pintu masuk pasti ketemu deh, katanya gitu. Jadi bukan dari Ogir-Yensa Sandsea atau Nam-Yensa Sandsea, apalagi Ozmone Plains. Ih gede bener sih ini Zertinan Caverns. Nah, kebetulan. Aku makin pede karena baru aja selesai menghabisi Ring Wyrm, tanggung lah kalo balik dulu, level 34 ini, ngga takut deh. And then, kita langsung menuju Shimmering Horizons. Setelah berjalan agak ke barat, kita menemukan pintu masuk ke dalam gua. Ah ini pasti pintu masuk yang dibilang sama si Tavernmaster nih. Ayo kita kemon guys! Sampai di dalem gua, suasananya memang gelap sekali. Aku harus melakukan skill Libra supaya inderaku lebih tajam, kali aja ada perangkap yang sengaja dipasang, kan ngga lucu kalo kena perangkap. Makin kedalam makin gelap nih suasananya, kok perasaanku ngga enak ya. Tuh kan bener ada Explosion Trap, banyak pula. Untung tadi udah Libra, jadi keliatan deh trapnya ada dimana aja. Hmm, sudah 5 menit mencari nih, kok ngga ketemu-ketemu ya Marilith-nya. Aku sampai di sebuah tempat yang letaknya agak mojok. Selagi kita mempersiapkan beberapa Magick seperti Regen, Protect, dan Shell, tiba-tiba terdengar suara mendesis. Marilith!! Angkat senjata dan maju!! Aku kembali di posisi paling depan. Basch dan Larsa juga maju, tapi tidak sedekat aku. Sementara Lady Ashe agak sedikit di belakang, untuk Support, karena tadi waktu melawan Ring Wyrm, lebih efektif begitu. Setelah beberapa menit bertarung, HP Marilith terlihat mulai berkurang, dari seperempat, setengah, kemudian tigaperempat. Itupun setelah menerima damage yang total jumlahnya kira-kira sekitar 50000. Damn! Tebel juga nih uler, pikirku dalam hati. Tiba-tiba Marilith mengamuk! Aku dihajarnya 5 kali. Sekali gebuk HP ku berkurang 700. Hi-Potion yang dilempar Basch dan Larsa ngga cukup buat nutupin damage nya, padahal HP ku totalnya 2000an lebih. Wah, terkapar deh aku, tinggal Basch, Larsa sama Lady Ashe. Samar-samar sempet kulihat Larsa juga terkapar, habis HP nya cuma 1000an, udah gitu dia ngga ngambil License buat HP+ sih. Wadoh Basch juga kena getahnya, tinggal Lady Ashe sendirian deh. Sepertinya dia memanggil bala bantuan, tak lama datang Penelo dan Fran, back in the action. Penelo begitu datang langsung menggebrak pake Quickeningnya, Intercession, disambung sama Feral Strike-nya Fran dan Northswain's Glow-nya Lady Ashe, di detik-detik terakhir perlawanannya. Singkat cerita sepertinya Marilith memang masih terlalu kuat buat level 34. *sigh* Lady Ashe dan Penelo terkapar setelah MP nya habis dan ngga sanggup buat melakukan Cure lagi. Sementara Fran, di detik-detik terakhir sempat dibantu sama Balthier, walaupun akhirnya mereka berdua memilih buat kabur juga. Tapi Marilith tetap mengejar, dan lagi-lagi Fran koit di tengah pelariannya. Tinggal Balthier sendirian, dengan HP yang sudah Critical, sekitar 400, masih berusaha mencapai pintu keluar gua yang sudah terlihat, tinggal beberapa langkah lagi. Namun apa daya, Marilith berlari lebih kencang. Disarangkannya sebuah pukulan yang cukup telak ke tubuh Balthier. 700 Damage. Balthier pun ikut terkapar. Padahal tangannya sudah persis di depan mulut gua, sayang sekali. Marilith, setelah berhasil menghabisi kita semua, berbalik kembali menuju sarangnya, Zertinan Caverns.
Dan kemudian tulisan GAME OVER berwarna merah menghiasi layar tv di kantor. Saya tidak punya pilihan lain selain menekan tombol START dan memilih LOAD GAME (ya iyalah, masa milih NEW GAME?) Ah, sepertinya angka 34 itu harus berubah menjadi 50 dulu, atau minimal 40 lah, baru saya akan kembali menantang White Mousse, Ring Wyrm, dan Marilith. Keparat. Ngulangnya jauh sekali. Tapi mulai sekarang saya berjanji akan rajin nge-save, deh.
[Bondan, Senin 11 Desember 2006, 11:29 PM, pokoknya harus sampai level 50, walaupun harus menghabiskan semalam di Dalmasca]
White Mousse (Rank V)
Pertama-tama aku datang kepada Sorbet, seekor moogle di sekitar West Gate, Rabanastre. Jadi ceritanya si Sorbet ini lagi jalan-jalan di Garamsythe Waterway, lalu kunci waterway-nya jatuh. begitu sadar, ternyata udah dimakan sama si White Mousse ini. Katanya dia liat di sekitar West Sluice Control. Ok, first task is up. Aku berjalan menuju Garamsythe Waterway lewat Lowtown, kota di bawah tanah Rabanastre. Memasuki Garamsythe Waterway, aku sempet kebingungan di Central Waterway Control. Soalnya sebagian jalannya terendam air, jadi ngga bisa lewat. Tapi setelah muter-muter, akhirnya nemu juga jalannya. Sampai di West Sluice Control, aku harus menghabisi beberapa Malboro Overking, cukup merepotkan, tapi masih bisa kuatasi, level 34 nih ye. Aku pun makin percaya diri. Ups, ada Water Elemental disana, mending jangan ganggu deh, monster itu rese banget. HP nya ngga ketauan berapa, udah gitu kebal serangan fisik, sampe sekarang aku masih belum tau cara ngalahinnya pake apa, dududu.. Aku lewat dengan santainya. Sampai akhirnya si White Mousse jelek itu menampakkan diri. Ih jelek bener, tampangnya kaya lendir ngga jelas gitu. Langsung aja aku gebuk. Prak!! Wih!! Damage ku sampe 1000 lebih. tapi kok HP si White Mousse itu berkurangnya nyicil bener yak? Waduh, ini apa lagi? Kok Water Elemental ikut-ikutan nyerang? Ok, this is bad. Aku cabut dari situ, Balthier, Fran dan Larsa juga ikutan cabut. Tapi sayang si Fran koit di tengah jalan, keganjel sama si lendir jelek dan Water Elemental keparat itu, yah disiksa deh. Ya sudahlah hidupin aja lagi nanti kalo udah aman situasinya. Ok, aku kembali ke Central Waterway Control, disini ada Save Crystal. Begitu aku menyentuh Save Crystal itu, Fran langsung hidup lagi. Kayaknya dia ngambek gitu tadi kutinggal, ya sudah, misi berikutnya aku pergi sama Basch dan Lady Ashe sajalah. Oh iya, Larsa masih ikutan ya?
Ring Wyrm (Rank III)
Keluar dari Garamsythe Waterway, mumpung masih di Lowtown, aku mencari orang yang bernama Balzac. Katanya ada di North Sprawl, hmm gampang sekali menemukannya. Balzac bilang, pas dia lagi latihan bersama pasukannya di daerah Windtrace Dunes, Dalmasca Westersand, ada Ring Wyrm yang kuat banget ngga bisa dia kalahin, dan si Ring Wyrm ini nggangguin latihannya. Makanya dia nyari-nyari orang buat bunuh monster yang ukurannya segede-gede alaihim ini. Tapi dia bilang, nongolnya cuma sekali-sekali aja, terutama pas lagi ada badai pasir. Katanya hati-hati, pas badai pasir itu zero visibility. Ah, kecil lah buat level 34. Aku kan dari kemarin udah leveling gila-gilaan. And so I, Basch, Lady Ashe, and Larsa headed west. kita sampai di Dalmasca Westersand, kalo dari Rabanastre itu lewatnya West Gate (ya iyalah, masa mau ke Westersand lewat East Gate, mana nyambung.) Di Galtea Downs ngga ada apa-apa, lanjut ke The Midfault. Hmm, lagi-lagi isinya monster cupu semua. Masa ngga lebih dari 66 EXP? Mendingan hunt di Ozmone Plains tadi deh, masih 300an EXP nya. Next stop is, Windtrace Dunes. Hmm, sepertinya nasib baik, pasti bakal ketemu Ring Wyrm nih, soalnya lagi badai pasir disini, cakep dah. Aku, Basch dan Lady Ashe berjalan terus di tengah-tengah badai pasir yang aduhai. Bener-bener zero visibility nih, kedepan ngga liat apa-apa. Tiba-tiba di depan mata terlihat sesuatu yg guwede segede-gede alaihim (sepertinya ini baru kakinya si Ring Wyrm doang deh.) Ah, ternyata benar, aku langsung maju sendirian. Basch, Lady Ashe dan Larsa ngga mau kalah ternyata. Mereka ikutan maju, tapi tetep disiplin. Kalo ada salah satu dari kita yang HP nya kurang dari 50%, langsung dilemparin Hi-Potion biar penuh lagi HP nya. Setelah pertarungan yang cukup melelahkan (serius nih, hampir setengah jam bunuhnya) akhirnya tumbang juga si Ring Wyrm raksasa itu. Wow, dapet 16 LP. Ok, waktunya melapor ke Balzac. Eit, tunggu dulu. Ini kan kita lagi di Dalmasca Westersand. Kalo ngga salah tadi katanya si Tavernmaster.. Hmm..
Marilith (Rank V)
Sebenarnya orang pertama yang aku datangi untuk nerima kerjaan adalah si Tavernmaster di Sandsea tavern, Rabanastre. Ya secara dia yang paling deket dari yang lain ya aku temuin duluan. Permintaannya agak-agak aneh sih menurutku. Dia meminta sebuah ingredient penting buat bikin wine, yang cuma bisa didapet dari Marilith, monster ular yang ada di Zertinan Caverns, yang letaknya itu di suatu tempat di deket Dalmasca Westersand gitu lah. Pokoknya masuk ke Zertinan Caverns dari Dalmasca Westersand, tepatnya dari Shimmering Horizons, deket-deket pintu masuk pasti ketemu deh, katanya gitu. Jadi bukan dari Ogir-Yensa Sandsea atau Nam-Yensa Sandsea, apalagi Ozmone Plains. Ih gede bener sih ini Zertinan Caverns. Nah, kebetulan. Aku makin pede karena baru aja selesai menghabisi Ring Wyrm, tanggung lah kalo balik dulu, level 34 ini, ngga takut deh. And then, kita langsung menuju Shimmering Horizons. Setelah berjalan agak ke barat, kita menemukan pintu masuk ke dalam gua. Ah ini pasti pintu masuk yang dibilang sama si Tavernmaster nih. Ayo kita kemon guys! Sampai di dalem gua, suasananya memang gelap sekali. Aku harus melakukan skill Libra supaya inderaku lebih tajam, kali aja ada perangkap yang sengaja dipasang, kan ngga lucu kalo kena perangkap. Makin kedalam makin gelap nih suasananya, kok perasaanku ngga enak ya. Tuh kan bener ada Explosion Trap, banyak pula. Untung tadi udah Libra, jadi keliatan deh trapnya ada dimana aja. Hmm, sudah 5 menit mencari nih, kok ngga ketemu-ketemu ya Marilith-nya. Aku sampai di sebuah tempat yang letaknya agak mojok. Selagi kita mempersiapkan beberapa Magick seperti Regen, Protect, dan Shell, tiba-tiba terdengar suara mendesis. Marilith!! Angkat senjata dan maju!! Aku kembali di posisi paling depan. Basch dan Larsa juga maju, tapi tidak sedekat aku. Sementara Lady Ashe agak sedikit di belakang, untuk Support, karena tadi waktu melawan Ring Wyrm, lebih efektif begitu. Setelah beberapa menit bertarung, HP Marilith terlihat mulai berkurang, dari seperempat, setengah, kemudian tigaperempat. Itupun setelah menerima damage yang total jumlahnya kira-kira sekitar 50000. Damn! Tebel juga nih uler, pikirku dalam hati. Tiba-tiba Marilith mengamuk! Aku dihajarnya 5 kali. Sekali gebuk HP ku berkurang 700. Hi-Potion yang dilempar Basch dan Larsa ngga cukup buat nutupin damage nya, padahal HP ku totalnya 2000an lebih. Wah, terkapar deh aku, tinggal Basch, Larsa sama Lady Ashe. Samar-samar sempet kulihat Larsa juga terkapar, habis HP nya cuma 1000an, udah gitu dia ngga ngambil License buat HP+ sih. Wadoh Basch juga kena getahnya, tinggal Lady Ashe sendirian deh. Sepertinya dia memanggil bala bantuan, tak lama datang Penelo dan Fran, back in the action. Penelo begitu datang langsung menggebrak pake Quickeningnya, Intercession, disambung sama Feral Strike-nya Fran dan Northswain's Glow-nya Lady Ashe, di detik-detik terakhir perlawanannya. Singkat cerita sepertinya Marilith memang masih terlalu kuat buat level 34. *sigh* Lady Ashe dan Penelo terkapar setelah MP nya habis dan ngga sanggup buat melakukan Cure lagi. Sementara Fran, di detik-detik terakhir sempat dibantu sama Balthier, walaupun akhirnya mereka berdua memilih buat kabur juga. Tapi Marilith tetap mengejar, dan lagi-lagi Fran koit di tengah pelariannya. Tinggal Balthier sendirian, dengan HP yang sudah Critical, sekitar 400, masih berusaha mencapai pintu keluar gua yang sudah terlihat, tinggal beberapa langkah lagi. Namun apa daya, Marilith berlari lebih kencang. Disarangkannya sebuah pukulan yang cukup telak ke tubuh Balthier. 700 Damage. Balthier pun ikut terkapar. Padahal tangannya sudah persis di depan mulut gua, sayang sekali. Marilith, setelah berhasil menghabisi kita semua, berbalik kembali menuju sarangnya, Zertinan Caverns.
Dan kemudian tulisan GAME OVER berwarna merah menghiasi layar tv di kantor. Saya tidak punya pilihan lain selain menekan tombol START dan memilih LOAD GAME (ya iyalah, masa milih NEW GAME?) Ah, sepertinya angka 34 itu harus berubah menjadi 50 dulu, atau minimal 40 lah, baru saya akan kembali menantang White Mousse, Ring Wyrm, dan Marilith. Keparat. Ngulangnya jauh sekali. Tapi mulai sekarang saya berjanji akan rajin nge-save, deh.
[Bondan, Senin 11 Desember 2006, 11:29 PM, pokoknya harus sampai level 50, walaupun harus menghabiskan semalam di Dalmasca]
Wednesday, December 06, 2006
3/4 | tigaperempat
kalau komputer hanya mengenal bahasa 1 dan 0
maka saat ini saya sedang 3/4
kalau komputer bilang 1 adalah ya dan 0 adalah tidak
maka 1 adalah benar dan 0 adalah salah
kalau komputer bilang 1 adalah benar dan 0 adalah salah
maka 1 adalah positif dan 0 adalah negatif
kalau komputer bilang 1 adalah positif dan 0 adalah negatif
maka 3/4 adalah ragu-ragu
tidak 1/2, tidak 1/4, tapi 3/4
karena itu sebelum menjadi 1/2, sebelum menjadi 1/4, dan sebelum menjadi 0
tolonglah saya membuat 3/4 ini (kembali) jadi 1
bondanrastika@6/12/06 - 00:19 AM [sambil merenung di tigaperempat malam]
maka saat ini saya sedang 3/4
kalau komputer bilang 1 adalah ya dan 0 adalah tidak
maka 1 adalah benar dan 0 adalah salah
kalau komputer bilang 1 adalah benar dan 0 adalah salah
maka 1 adalah positif dan 0 adalah negatif
kalau komputer bilang 1 adalah positif dan 0 adalah negatif
maka 3/4 adalah ragu-ragu
tidak 1/2, tidak 1/4, tapi 3/4
karena itu sebelum menjadi 1/2, sebelum menjadi 1/4, dan sebelum menjadi 0
tolonglah saya membuat 3/4 ini (kembali) jadi 1
bondanrastika@6/12/06 - 00:19 AM [sambil merenung di tigaperempat malam]
Tuesday, December 05, 2006
you never asked | part three
“Bee, kamu masih inget kan janji kita tiap tanggal 26 februari?”
“izzi pizza kemang?”
“iya itu, mmm.. tahun depan kita masih sama2 ngga ya?”
“maksudnya?”
“ngga, aku lagi takut banget kalo kita sampe harus pisah”
“aku ngga kemana2 kok”
“bener? aku bisa punya kamu sampe kapanpun?”
“iya, aku ngga kemana2”
“makasih ya Bee..”
“aku sayang kamu”
“aku juga, sayang banget sama kamu”
pelan2 pandanganku kabur, dan semuanya mulai memutih. silau sekali. mungkin aku seperti orang yg mau mati. ya, aku ngga tau gimana rasanya soalnya belum pernah ngalamin yg namanya di ujung nyawa. tapi tiba2 aku bernafas lagi, walaupun terengah2. badanku basah kuyub, keringat bercucuran. tanpa sadar pula ternyata aku meneteskan air mata. pelan2 pandanganku kembali normal. yg terlihat hanya sebuah ruangan kecil. aku yang sebelumnya terbaring di kasurnya sekarang sedang terduduk lemas. laptop di samping bantalku masih menyala. Microsoft Word pun masih terbuka. sepertinya kursornya juga masih di tempat yg sama seperti tadi malam. ya secara laptopnya sempet aku pindahin ke samping bantal, biar ngga ketendang2 kalo aku tidur. masih persis di sebelah kanan huruf e di akhir kata itu. “Amelie”. hah.. ternyata aku ketiduran. jadi semua itu tadi cuma mimpi. entah kenapa tumben2 nya aku mimpi tentang Priscilla, mantan pacarku yang sudah sejak setahun ini ngga pernah aku denger lagi kabarnya kaya gimana. mimpi yg aneh.
Priscilla dan aku dulu sempet jadian lumayan lama. sekitar 6 tahunan. dan kebetulan Priscilla ini pacar pertamaku, sampai setahun yg lalu dia memutuskan untuk lepas dari aku, karena ngga tahan dengan long distance relationship. memang berat sih. apalagi aku juga jarang pulang ke jakarta, soalnya kuliahku disini bener2 ngga bisa ditinggal2, sibuk terus. akhirnya setelah putus, ya aku bilang sama orangtuaku di jakarta, aku mau stay di sini dulu. toh mereka juga ngga keberatan. maybe i just need some time for myself. yah pacaran2 sama cewek sini lah. tapi nanti pasti ada saatnya aku balik lagi ke jakarta, cuma belom tau kapan. nikmatin aja lah dulu yang sekarang ada di depan mata. di depan mata sih ada laptop. eh, tunggu dulu. wah kursornya berhenti di kata Amelie.. mungkin semalem pas aku nulis berhenti disini, aku ngantuk banget kali ya.. btw itu kok.. jam di ujung kanan bawah itu terlihat seperti angka.. aduh silau bener. angka berapa sih itu? aku memicingkan mata untuk mengimbangi cahaya dari layar laptop yg masuk ke mataku, mencoba memfokuskan mataku pada angka jam yg terletak di kanan bawah itu.
oh crap. jam 9 pagi..!! kenapa si Daryl kampret itu ngga bangunin aku sih? wah bisa telat nih janjian ketemu sama Amelie. haduh. handphone, handphone. mana ya handphone ku. ah ini dia. lho? 3 misscall, private number? ah bodo ah, ngga ada waktu nge-trace balik nomernya. aku musti siap2 mandi2 dan segala macem. mana ya kemarin nomernya Amelie. ya ampuuun. ada di saku baju yang itu. dan baju itu kemarin aku cuci. mati lah. coba telpon Daryl deh, kali aja dia tau. aku mencari nomer Daryl di contacts. tapi belum sampe huruf D, ternyata nomernya Amelie udah aku simpen di contacts. haaah lega. untung udah aku save. ok, waktunya menelpon nih.
sebentar.. aku memang suka agak2 gugup kalo ngomong sama cewek, apalagi pertama kali, hmm.. ah sutralah, go show aja. here goes.. terdengar nada sambung konvensional, tuuut.. tuuut..
“hi, is this Amelie?” sapaku.
“yes, this is her, who is this?” jawabnya sambil balik bertanya.
“it’s me, Brandon, Daryl’s friend, err.. housemate” jawabku.
“oh yeah, the one from that coffee shop, right?” katanya.
“yeah, right. how’re you doin’?” tanyaku.
“fine, thanks. you know what, i was about to go to the breakfast corner in front of your coffee shop” jawabnya.
“no kidding, i was about to go to the coffee shop. wanna meet there?” tanyaku, dengan sedikit berharap.
“hmm.. actually there’s something i like about the breakfast corner across your place, but it’s fine with me if you wanna meet at your coffee shop. besides i need to see Daryl, and i need a place where i can stay for hours.” jawabnya.
“ok then. it’s my treat. i’ll see you later when i get there, ok?” kataku.
“ok, see ya later, bye” jawabnya.
“bye” kataku.
suara Amelie cukup enak didengar, dan pastinya saat menelpon tadi sedikit demi sedikit, walaupun aku tahu itu susah, tapi aku masih saja berusaha melukis raut wajahnya di otakku. rasanya kali ini lebih mudah melakukannya karena aku dibantu dengan suara yang keluar lewat speaker telepon. setiap nafas suaranya kuterjemahkan sebagai goresan lukisan wajahnya yang makin lama tak kunjung juga makin jelas. mungkin harus kuambil fotonya. ya betul. difoto saja. susah amat. hahaha.. wah aku harus segera siap2 nih, udah jam 9:30. aku juga bilangnya tadi langsung ke coffee shop. mati deh. belom milih baju, belom beres2 laptop, aduh handuk kemana pula. mungkin di jemuran deket balkon. nah ini dia. aduh!! apaan tuh yg ketendang? yaaa ampuuun ini Pringles sama Coca Cola kok berantakan gini? abis pula, duh laper. kampret nih si Daryl sama Sean. udah ngga bangunin, pake ngabisin makanan, berantakan pula. wah kapal pecah! aduuuh iya lupaaa air buat mandi juga belom dipanasin. hadoooh, sempet ngga ya jam 10? huh.
aku mulai mandi buru2. di tengah2 suasana hati yang lagi cranky, kayaknya air yg mengguyur kepala rasanya dingiiin, segeeer banget. selesai mandi, aku melihat ke kasur. aduh aku musti beres2 laptop dulu nih. eh, tunggu dulu, perasaan dari tadi kok sepi sih di kamar ini? buset. iPod-ku kemana? kok ngilang gitu dari dock-nya. aku mencoba mencari kesana kemari. jangan2 ngumpet di balik bantal.. oh, ngga ada. di ruang tengah.. duh ngga ada juga. dimana ya kemarin itu terakhir aku taro. tapi perasaan tadi malem begitu aku pasang di dock aku langsung nyebur ke kasur deh. hmm pasti dibawa Daryl nih. mending aku telpon dia aja buat mastiin. lama amat sih ngangkatnya…
“s’up B?” teriak Daryl.
“Daryl, where are you? and what’s with the shouting?” tanyaku.
“i’m at the gameshop, Sean’s with me, and it’s crowded like hell here. i just read the newspaper this morning, PlayStation 3 is here! we’re looking at the new PlayStation 3, B! you gotta be kidding if you’re not jumping here to see it. oh, and by the way, Sean’s taking one home with him, so i’ll definitely pass the gym tonight. if you wanna go to the gym with me tonight, well.. i can’t go. maybe some other time.” jelas Daryl dengan volume suara yang bikin budek.
“WHAT?! PS3?! oh crap! damn you Sean! i’m gonna hate you for the rest of your life, hahaha.. hey D, who’s gonna go with you anyway? duh.. oh by the way, did you snatch my iPod from the speaker dock?” balasku.
“oh yeah, i forget to tell you, i’m borrowing it, just wanna copy some new songs from Sean’s PowerBook, you’ll love them. i’ll return it to you tonight, after the PS3 madness is over. kay?” jawabnya.
“oow ok. catch you later D, i gotta run, i’m seeing Amelie, bye.” jawabku.
“ok, bye” jawab Daryl singkat dan menutup telepon.
aku bergegas ganti baju, siap2 dan buru2 berangkat. secara ini udah jam 9:45 gitu ya.. sial tadi mustinya mandi cuma 5 menit, gara2 ngerokok dulu jadi 10 menit deh. nelpon si Daryl juga ngga penting tuh, aaargh damn. kalo bukan gara2 Daryl ngomong ada PS3, pasti detik ini aku udah di jalan. si Sean beli PS3 juga akhirnya. padahal baru beberapa bulan yang lalu kita bertiga main ke rumahnya nyobain XBOX 360 dan HDTV Samsung-nya yang baru itu. ok, enuff with all that. gotta run to the bus station before it’s 10, or i’ll be a jerk. wih, rush hour nih. tidak lupa mengunci pintu. aku masih punya 10 menit untuk buru2 cabut ke coffee shop, dan mengangkat.. telpon.. what?? my mobile phone’s ringing? hmm private number itu lagi. mungkin adikku, atau orangtuaku. aku mencoba mengangkat telpon dengan santai, sambil berusaha menyembunyikan ketergesa2anku.
“Halo? Brandon?” hmm..? bukan adikku, bukan orangtuaku, tapi sepertinya aku kenal dengan suara ini. siapa ya? seperti suara yang sudah lama sekali ngga pernah terdengar di kupingku.
“Yes, who is this?” tanyaku tanpa basa basi, sambil jalan ke halte bus.
“ini aku, Priscilla. udah lupa ya?” jawab suara di ujung sana. mendadak langkahku terhenti. hampir aja orang yang lagi jalan di belakangku menabrakku. habis tiba2 aku terbengong kaya sapi ompong. mukaku pasti terlihat seperti orang tolol nih. astaga. ya ampun. udah lama banget aku ngga denger suaranya Priscilla. ya memang selama ini aku udah ngga pernah nelpon atau sms apalagi chat di messenger. tumben aja nih dia nelpon duluan. ada apa ya kira2.. di tengah2 keterkejutanku itu, kemudian Priscilla ngomong lagi.
“maaf, aku ganggu ya?” tanyanya.
“oh, heyyy.. apa kabar Pris? ngga ganggu kok, biasa aja, cuma aku kaget banget kamu nelpon, hahaha.. aku lagi di jalan nih, gimana Jakarta? masih macet?” kataku sambil berjalan kaki, dengan nafas yang terengah2. aku bener2 ngga bisa menyembunyikan kekagetanku. tapi lebih ngga bisa lagi kalo jam 10 belum nyampe ke coffee shop. ngga mau sih tepatnya. lalu kemudian aku jalan lagi.
“ya gitu deh.. aku ganggu ngga nih? kamu lagi sama Daryl ya?” sambungnya.
“hahaha.. ngga kok beneran deh. Daryl lagi pergi sama Sean, aku ngga ikut. aku kan sekarang buka coffee shop. ini lagi jalan mau ke sana. kamu sih, ngga pernah contact, jadinya ngga tahu. udah hampir setahun, sekarang baru nongol lagi ke permukaan. ngga kelamaan tuh tenggelemnya?” tanyaku.
“iya maaf, soalnya aku sibuk banget” jawabnya.
“kok kamu ngga pernah ngasih kabar sih? how come i never heard anything from you, even from your friends?” tanyaku.
“well, you never asked..” jawabnya singkat.
belum sempat aku membalas kata2nya, tiba2 terdengar suara tut tut tut. lho keputus? membuatku bertanya2. ada apa ya si Priscilla nelpon kemari. tapi aku yakin kalo ngga penting banget dia ngga akan nelpon kemari. aku pun meneruskan perjalanan menuju coffee shop, sambil dipenuhi pikiran2 dan dugaan2 yang kubuat sendiri. soal Priscilla. kira2 dia nelpon ada perlu apa ya. dan itu masih terbayang2 dari mulai aku tutup telpon, nyampe di halte bus, menunggu 5 menit dan naik bus ke arah kampus. perjalanan dari halte deket apartemen ke coffee shop deket kampus emang cuma 15 menit. tapi kalo jalan kaki entah kenapa akan sangat terasa lama sekali, hahaha.. akhirnya sampe di perempatan Vassar St dan Massachusetts Ave. ah, ini dia. 77 Massachusetts Avenue, Massachusetts Institute of Technology. sepertinya aku harus turun disini. hup. aku melangkahkan kaki kiriku begitu turun dari bus. tinggal jalan kaki sampe ke coffee shop. crap. jam 10:10. mudah2an Amelie masih ada disana.
aku mempercepat langkah. coffee shopnya sudah mulai terlihat. di salah satu jendela terlihat seorang perempuan yang wajahnya berusaha kugambar di otakku sejak kemarin. terlihat sibuk dengan iBooknya. tapi tiba2 pandangan surga itu dikejutkan dengan dering handphone yang menunjukkan ada sms baru. duh siapa sih nih, ganggu aja. pasti si Daryl sama Sean pengen pamer kalo mereka udah pulang sambil bawa PS3 deh. dasar dua orang itu. kubuka inboxku. hmm? sendernya bukan Daryl, tapi “no number”. siapa sih ini? kubuka message itu. kubaca isinya, aku terdiam, aku tetap memandangi pesan itu walaupun kata2 terakhirnya bikin aku mau pingsan.
“Bee, ini aku, Priscilla. sorry tadi telpnya keputus, mungkin jaringannya error. but don’t worry, i’ll be quick. aku cuma mau kamu tau kalau.. aku udah menikah sama orang lain.. jadi mulai hari ini, anggap aja kita udah ngga kenal satu sama lain ya.. take care, bye.”
aku terdiam. langkahku terhenti. padahal aku tinggal beberapa lagkah lagi sampai di coffee shop. sepertinya Amelie melihatku. dia melambai ke arahku dari balik kaca jendela, seperti berkata “hey sini, aku disini lho..” aku memaksakan diri berjalan masuk ke coffee shop, dan menuju ke mejanya. langkahku terasa berat sekali. sepertinya separuh diriku mencoba menarikku, menjauhkan aku dari Amelie, yang sudah ada di depan mataku. mencoba menjebloskan aku kembali dalam perangkap masa lalu. namun aku terlalu keras kepala. aku menarik tubuhku, memaksa kakiku berjalan maju. dan aku menang. akhirnya separuh diriku itu tertinggal di luar, di tempat aku berdiri terdiam sewaktu menerima sms dari Priscilla. saat aku duduk pun, aku bisa melihat separuh diriku ada di luar, memandangi aku yang sedang duduk bersama Amelie. separuh diriku, masih terjebak di masa lalu. masih berusaha menerima kenyataan bahwa aku dan Priscilla sudah tidak akan mungkin bisa bersama lagi.
buku yang lama sudah habis kutulis. tak ada halaman yang tersisa. kini buku itu berpindah ke tangan orang lain. mungkin orang lain itu membaca kisahnya, dan ingin melanjutkan ceritanya. tak mengapa. tulislah sesukamu. aku tak perduli, karena sekarang itu bukanlah tanggung jawabku. aku sudah menulis bagianku, dulu. dan sekarang aku tak akan menulis di buku itu lagi, karena bagianku sudah selesai. sekarang saatnya aku menulis kata pengantar di buku yang baru.
“izzi pizza kemang?”
“iya itu, mmm.. tahun depan kita masih sama2 ngga ya?”
“maksudnya?”
“ngga, aku lagi takut banget kalo kita sampe harus pisah”
“aku ngga kemana2 kok”
“bener? aku bisa punya kamu sampe kapanpun?”
“iya, aku ngga kemana2”
“makasih ya Bee..”
“aku sayang kamu”
“aku juga, sayang banget sama kamu”
pelan2 pandanganku kabur, dan semuanya mulai memutih. silau sekali. mungkin aku seperti orang yg mau mati. ya, aku ngga tau gimana rasanya soalnya belum pernah ngalamin yg namanya di ujung nyawa. tapi tiba2 aku bernafas lagi, walaupun terengah2. badanku basah kuyub, keringat bercucuran. tanpa sadar pula ternyata aku meneteskan air mata. pelan2 pandanganku kembali normal. yg terlihat hanya sebuah ruangan kecil. aku yang sebelumnya terbaring di kasurnya sekarang sedang terduduk lemas. laptop di samping bantalku masih menyala. Microsoft Word pun masih terbuka. sepertinya kursornya juga masih di tempat yg sama seperti tadi malam. ya secara laptopnya sempet aku pindahin ke samping bantal, biar ngga ketendang2 kalo aku tidur. masih persis di sebelah kanan huruf e di akhir kata itu. “Amelie”. hah.. ternyata aku ketiduran. jadi semua itu tadi cuma mimpi. entah kenapa tumben2 nya aku mimpi tentang Priscilla, mantan pacarku yang sudah sejak setahun ini ngga pernah aku denger lagi kabarnya kaya gimana. mimpi yg aneh.
Priscilla dan aku dulu sempet jadian lumayan lama. sekitar 6 tahunan. dan kebetulan Priscilla ini pacar pertamaku, sampai setahun yg lalu dia memutuskan untuk lepas dari aku, karena ngga tahan dengan long distance relationship. memang berat sih. apalagi aku juga jarang pulang ke jakarta, soalnya kuliahku disini bener2 ngga bisa ditinggal2, sibuk terus. akhirnya setelah putus, ya aku bilang sama orangtuaku di jakarta, aku mau stay di sini dulu. toh mereka juga ngga keberatan. maybe i just need some time for myself. yah pacaran2 sama cewek sini lah. tapi nanti pasti ada saatnya aku balik lagi ke jakarta, cuma belom tau kapan. nikmatin aja lah dulu yang sekarang ada di depan mata. di depan mata sih ada laptop. eh, tunggu dulu. wah kursornya berhenti di kata Amelie.. mungkin semalem pas aku nulis berhenti disini, aku ngantuk banget kali ya.. btw itu kok.. jam di ujung kanan bawah itu terlihat seperti angka.. aduh silau bener. angka berapa sih itu? aku memicingkan mata untuk mengimbangi cahaya dari layar laptop yg masuk ke mataku, mencoba memfokuskan mataku pada angka jam yg terletak di kanan bawah itu.
oh crap. jam 9 pagi..!! kenapa si Daryl kampret itu ngga bangunin aku sih? wah bisa telat nih janjian ketemu sama Amelie. haduh. handphone, handphone. mana ya handphone ku. ah ini dia. lho? 3 misscall, private number? ah bodo ah, ngga ada waktu nge-trace balik nomernya. aku musti siap2 mandi2 dan segala macem. mana ya kemarin nomernya Amelie. ya ampuuun. ada di saku baju yang itu. dan baju itu kemarin aku cuci. mati lah. coba telpon Daryl deh, kali aja dia tau. aku mencari nomer Daryl di contacts. tapi belum sampe huruf D, ternyata nomernya Amelie udah aku simpen di contacts. haaah lega. untung udah aku save. ok, waktunya menelpon nih.
sebentar.. aku memang suka agak2 gugup kalo ngomong sama cewek, apalagi pertama kali, hmm.. ah sutralah, go show aja. here goes.. terdengar nada sambung konvensional, tuuut.. tuuut..
“hi, is this Amelie?” sapaku.
“yes, this is her, who is this?” jawabnya sambil balik bertanya.
“it’s me, Brandon, Daryl’s friend, err.. housemate” jawabku.
“oh yeah, the one from that coffee shop, right?” katanya.
“yeah, right. how’re you doin’?” tanyaku.
“fine, thanks. you know what, i was about to go to the breakfast corner in front of your coffee shop” jawabnya.
“no kidding, i was about to go to the coffee shop. wanna meet there?” tanyaku, dengan sedikit berharap.
“hmm.. actually there’s something i like about the breakfast corner across your place, but it’s fine with me if you wanna meet at your coffee shop. besides i need to see Daryl, and i need a place where i can stay for hours.” jawabnya.
“ok then. it’s my treat. i’ll see you later when i get there, ok?” kataku.
“ok, see ya later, bye” jawabnya.
“bye” kataku.
suara Amelie cukup enak didengar, dan pastinya saat menelpon tadi sedikit demi sedikit, walaupun aku tahu itu susah, tapi aku masih saja berusaha melukis raut wajahnya di otakku. rasanya kali ini lebih mudah melakukannya karena aku dibantu dengan suara yang keluar lewat speaker telepon. setiap nafas suaranya kuterjemahkan sebagai goresan lukisan wajahnya yang makin lama tak kunjung juga makin jelas. mungkin harus kuambil fotonya. ya betul. difoto saja. susah amat. hahaha.. wah aku harus segera siap2 nih, udah jam 9:30. aku juga bilangnya tadi langsung ke coffee shop. mati deh. belom milih baju, belom beres2 laptop, aduh handuk kemana pula. mungkin di jemuran deket balkon. nah ini dia. aduh!! apaan tuh yg ketendang? yaaa ampuuun ini Pringles sama Coca Cola kok berantakan gini? abis pula, duh laper. kampret nih si Daryl sama Sean. udah ngga bangunin, pake ngabisin makanan, berantakan pula. wah kapal pecah! aduuuh iya lupaaa air buat mandi juga belom dipanasin. hadoooh, sempet ngga ya jam 10? huh.
aku mulai mandi buru2. di tengah2 suasana hati yang lagi cranky, kayaknya air yg mengguyur kepala rasanya dingiiin, segeeer banget. selesai mandi, aku melihat ke kasur. aduh aku musti beres2 laptop dulu nih. eh, tunggu dulu, perasaan dari tadi kok sepi sih di kamar ini? buset. iPod-ku kemana? kok ngilang gitu dari dock-nya. aku mencoba mencari kesana kemari. jangan2 ngumpet di balik bantal.. oh, ngga ada. di ruang tengah.. duh ngga ada juga. dimana ya kemarin itu terakhir aku taro. tapi perasaan tadi malem begitu aku pasang di dock aku langsung nyebur ke kasur deh. hmm pasti dibawa Daryl nih. mending aku telpon dia aja buat mastiin. lama amat sih ngangkatnya…
“s’up B?” teriak Daryl.
“Daryl, where are you? and what’s with the shouting?” tanyaku.
“i’m at the gameshop, Sean’s with me, and it’s crowded like hell here. i just read the newspaper this morning, PlayStation 3 is here! we’re looking at the new PlayStation 3, B! you gotta be kidding if you’re not jumping here to see it. oh, and by the way, Sean’s taking one home with him, so i’ll definitely pass the gym tonight. if you wanna go to the gym with me tonight, well.. i can’t go. maybe some other time.” jelas Daryl dengan volume suara yang bikin budek.
“WHAT?! PS3?! oh crap! damn you Sean! i’m gonna hate you for the rest of your life, hahaha.. hey D, who’s gonna go with you anyway? duh.. oh by the way, did you snatch my iPod from the speaker dock?” balasku.
“oh yeah, i forget to tell you, i’m borrowing it, just wanna copy some new songs from Sean’s PowerBook, you’ll love them. i’ll return it to you tonight, after the PS3 madness is over. kay?” jawabnya.
“oow ok. catch you later D, i gotta run, i’m seeing Amelie, bye.” jawabku.
“ok, bye” jawab Daryl singkat dan menutup telepon.
aku bergegas ganti baju, siap2 dan buru2 berangkat. secara ini udah jam 9:45 gitu ya.. sial tadi mustinya mandi cuma 5 menit, gara2 ngerokok dulu jadi 10 menit deh. nelpon si Daryl juga ngga penting tuh, aaargh damn. kalo bukan gara2 Daryl ngomong ada PS3, pasti detik ini aku udah di jalan. si Sean beli PS3 juga akhirnya. padahal baru beberapa bulan yang lalu kita bertiga main ke rumahnya nyobain XBOX 360 dan HDTV Samsung-nya yang baru itu. ok, enuff with all that. gotta run to the bus station before it’s 10, or i’ll be a jerk. wih, rush hour nih. tidak lupa mengunci pintu. aku masih punya 10 menit untuk buru2 cabut ke coffee shop, dan mengangkat.. telpon.. what?? my mobile phone’s ringing? hmm private number itu lagi. mungkin adikku, atau orangtuaku. aku mencoba mengangkat telpon dengan santai, sambil berusaha menyembunyikan ketergesa2anku.
“Halo? Brandon?” hmm..? bukan adikku, bukan orangtuaku, tapi sepertinya aku kenal dengan suara ini. siapa ya? seperti suara yang sudah lama sekali ngga pernah terdengar di kupingku.
“Yes, who is this?” tanyaku tanpa basa basi, sambil jalan ke halte bus.
“ini aku, Priscilla. udah lupa ya?” jawab suara di ujung sana. mendadak langkahku terhenti. hampir aja orang yang lagi jalan di belakangku menabrakku. habis tiba2 aku terbengong kaya sapi ompong. mukaku pasti terlihat seperti orang tolol nih. astaga. ya ampun. udah lama banget aku ngga denger suaranya Priscilla. ya memang selama ini aku udah ngga pernah nelpon atau sms apalagi chat di messenger. tumben aja nih dia nelpon duluan. ada apa ya kira2.. di tengah2 keterkejutanku itu, kemudian Priscilla ngomong lagi.
“maaf, aku ganggu ya?” tanyanya.
“oh, heyyy.. apa kabar Pris? ngga ganggu kok, biasa aja, cuma aku kaget banget kamu nelpon, hahaha.. aku lagi di jalan nih, gimana Jakarta? masih macet?” kataku sambil berjalan kaki, dengan nafas yang terengah2. aku bener2 ngga bisa menyembunyikan kekagetanku. tapi lebih ngga bisa lagi kalo jam 10 belum nyampe ke coffee shop. ngga mau sih tepatnya. lalu kemudian aku jalan lagi.
“ya gitu deh.. aku ganggu ngga nih? kamu lagi sama Daryl ya?” sambungnya.
“hahaha.. ngga kok beneran deh. Daryl lagi pergi sama Sean, aku ngga ikut. aku kan sekarang buka coffee shop. ini lagi jalan mau ke sana. kamu sih, ngga pernah contact, jadinya ngga tahu. udah hampir setahun, sekarang baru nongol lagi ke permukaan. ngga kelamaan tuh tenggelemnya?” tanyaku.
“iya maaf, soalnya aku sibuk banget” jawabnya.
“kok kamu ngga pernah ngasih kabar sih? how come i never heard anything from you, even from your friends?” tanyaku.
“well, you never asked..” jawabnya singkat.
belum sempat aku membalas kata2nya, tiba2 terdengar suara tut tut tut. lho keputus? membuatku bertanya2. ada apa ya si Priscilla nelpon kemari. tapi aku yakin kalo ngga penting banget dia ngga akan nelpon kemari. aku pun meneruskan perjalanan menuju coffee shop, sambil dipenuhi pikiran2 dan dugaan2 yang kubuat sendiri. soal Priscilla. kira2 dia nelpon ada perlu apa ya. dan itu masih terbayang2 dari mulai aku tutup telpon, nyampe di halte bus, menunggu 5 menit dan naik bus ke arah kampus. perjalanan dari halte deket apartemen ke coffee shop deket kampus emang cuma 15 menit. tapi kalo jalan kaki entah kenapa akan sangat terasa lama sekali, hahaha.. akhirnya sampe di perempatan Vassar St dan Massachusetts Ave. ah, ini dia. 77 Massachusetts Avenue, Massachusetts Institute of Technology. sepertinya aku harus turun disini. hup. aku melangkahkan kaki kiriku begitu turun dari bus. tinggal jalan kaki sampe ke coffee shop. crap. jam 10:10. mudah2an Amelie masih ada disana.
aku mempercepat langkah. coffee shopnya sudah mulai terlihat. di salah satu jendela terlihat seorang perempuan yang wajahnya berusaha kugambar di otakku sejak kemarin. terlihat sibuk dengan iBooknya. tapi tiba2 pandangan surga itu dikejutkan dengan dering handphone yang menunjukkan ada sms baru. duh siapa sih nih, ganggu aja. pasti si Daryl sama Sean pengen pamer kalo mereka udah pulang sambil bawa PS3 deh. dasar dua orang itu. kubuka inboxku. hmm? sendernya bukan Daryl, tapi “no number”. siapa sih ini? kubuka message itu. kubaca isinya, aku terdiam, aku tetap memandangi pesan itu walaupun kata2 terakhirnya bikin aku mau pingsan.
“Bee, ini aku, Priscilla. sorry tadi telpnya keputus, mungkin jaringannya error. but don’t worry, i’ll be quick. aku cuma mau kamu tau kalau.. aku udah menikah sama orang lain.. jadi mulai hari ini, anggap aja kita udah ngga kenal satu sama lain ya.. take care, bye.”
aku terdiam. langkahku terhenti. padahal aku tinggal beberapa lagkah lagi sampai di coffee shop. sepertinya Amelie melihatku. dia melambai ke arahku dari balik kaca jendela, seperti berkata “hey sini, aku disini lho..” aku memaksakan diri berjalan masuk ke coffee shop, dan menuju ke mejanya. langkahku terasa berat sekali. sepertinya separuh diriku mencoba menarikku, menjauhkan aku dari Amelie, yang sudah ada di depan mataku. mencoba menjebloskan aku kembali dalam perangkap masa lalu. namun aku terlalu keras kepala. aku menarik tubuhku, memaksa kakiku berjalan maju. dan aku menang. akhirnya separuh diriku itu tertinggal di luar, di tempat aku berdiri terdiam sewaktu menerima sms dari Priscilla. saat aku duduk pun, aku bisa melihat separuh diriku ada di luar, memandangi aku yang sedang duduk bersama Amelie. separuh diriku, masih terjebak di masa lalu. masih berusaha menerima kenyataan bahwa aku dan Priscilla sudah tidak akan mungkin bisa bersama lagi.
buku yang lama sudah habis kutulis. tak ada halaman yang tersisa. kini buku itu berpindah ke tangan orang lain. mungkin orang lain itu membaca kisahnya, dan ingin melanjutkan ceritanya. tak mengapa. tulislah sesukamu. aku tak perduli, karena sekarang itu bukanlah tanggung jawabku. aku sudah menulis bagianku, dulu. dan sekarang aku tak akan menulis di buku itu lagi, karena bagianku sudah selesai. sekarang saatnya aku menulis kata pengantar di buku yang baru.
Friday, December 01, 2006
catatan antara sebelas dan duabelas | too many bricks hit my head
waaah.. di sebelas banyak sekali teman2 saya yang berulang tahun, dari mulai eksi (eh, sepuluh ya si?) nisa, nova, rina, uut, lia (temennya rina sih.. ngga gitu kenal..), shani, definna, eh iya bokap juga. lalu yang terakhir ada devi. coba aja itung ada berapa homo sapiens tuh yang berulang tahun.. satu.. dua.. tiga.. sepuluh. nice. ya maaf2 saja bagi kalian2 yang belum sempet saya kadoin. niatnya sih mau ngasih kado, cuma ya apa daya kantong saya ngga cukup tebal buat ngadoin kalian semua, hahaha.. memang kebetulan ada beberapa orang diantara temen2 saya itu yang saya prioritaskan, jadi beruntunglah hei kalian yang sempet dapet kado dari saya. yang lain mungkin juga kan dapet kado dari pasangannya.. ya kalo yang ngga punya pasangan tunggu tahun depan kali yaa.. mungkin tahun depan saya bisa ngasih kado buat kalian.
ini kok ngomongin ulang tahun sama kado melulu sih? sebelas kali ini banyak sekali hal2 yang berjalan jauh diluar ekspektasi saya. bermula dari ulang tahun seseorang yang malah berubah jadi tragis, sampai saya harus mengungsi keluar dari rumah saking enegnya. ada apa sih dengan orang2 itu, makin tua kok bukannya makin dewasa, malah makin kaya anak kecil. situ tua? jelas tambah tua. situ baik? ya kalo ngga baik, saya ngga mungkin sehat walafiat seperti sekarang ini. situ bijak? ngaca deh. begitu mudahnya persepsi saya selama ini tentang orang paling bijak sedunia hilang begitu saja. just like a finger snap. "snap!" gone.
kemudian, ah iya.. pintu itu tertutup lagi entah kenapa. persis dari hari ke dua di awal sebelas sampai hari ke dua sebelum akhir sebelas. saya pikir sudah bisa membuka sedikit demi sedikit dari sejak itu. benar2 ya sebelas kali ini mungkin semua isinya cobaan yang cukup berat dalam sejarah hidup saya. tak banyak update di friendster, tak banyak comment di blog, tak banyak e-mail di google, tak banyak obrolan di messenger, hanya sekedar hai dan bye. offline message pun kadang cuma dari orang2 yang tidak terlalu saya harapkan. ya untungnya juga sih mereka masih inget sama saya, hahaha.. paling males soalnya kalo ngga ada temen, mati gaya. yah intinya sebelas ini penuh cobaan.
anyway.. mendekati akhir sebelas kali ini, secara, saat saya menulis, waktu sudah menunjukkan jam 00:10, hari ke 30. sedikit angin segar mampir menyapa saya yang sedang dibayang2i kegelisahan. rasanya duabelas nanti saya percaya bahwa saya akan mendapatkan semangat baru, lepas dari sebelas yang penuh cobaan. tak sabar rasanya menunggu duabelas yang hanya tinggal kurang dari 24 jam lagi. akhir2 ini pun hobi musik saya tersalurkan dengan baik. mulai rajin menekan tuts2 piano lagi, mulai rajin memetik senar2 gitar lagi, dan mulai rajin ngabsen ke tempat2 arcade buat main GuitarFreaks dan DrumMania. ya kalo lagi kepepet main drum sama gitarnya pake PS2 di kantor lah. pokoknya semua harus semangat. ya ya.. yang kita butuhkan cuma kejujuran, saya setuju sekali. sejujurnya saya tidak ingin terlalu berharap, karena kalau terbang terlalu tinggi jatuhnya pasti sakit sekali. been there done that. tapi kalau masih ada waktu, mungkin kita bisa bertemu di saat duabelas menuju satu.
[Bondan, 1 Desember 2006, 00:01 AM, sambil membayangkan kelanjutan cerita Brandon dan Amelie.]
ini kok ngomongin ulang tahun sama kado melulu sih? sebelas kali ini banyak sekali hal2 yang berjalan jauh diluar ekspektasi saya. bermula dari ulang tahun seseorang yang malah berubah jadi tragis, sampai saya harus mengungsi keluar dari rumah saking enegnya. ada apa sih dengan orang2 itu, makin tua kok bukannya makin dewasa, malah makin kaya anak kecil. situ tua? jelas tambah tua. situ baik? ya kalo ngga baik, saya ngga mungkin sehat walafiat seperti sekarang ini. situ bijak? ngaca deh. begitu mudahnya persepsi saya selama ini tentang orang paling bijak sedunia hilang begitu saja. just like a finger snap. "snap!" gone.
kemudian, ah iya.. pintu itu tertutup lagi entah kenapa. persis dari hari ke dua di awal sebelas sampai hari ke dua sebelum akhir sebelas. saya pikir sudah bisa membuka sedikit demi sedikit dari sejak itu. benar2 ya sebelas kali ini mungkin semua isinya cobaan yang cukup berat dalam sejarah hidup saya. tak banyak update di friendster, tak banyak comment di blog, tak banyak e-mail di google, tak banyak obrolan di messenger, hanya sekedar hai dan bye. offline message pun kadang cuma dari orang2 yang tidak terlalu saya harapkan. ya untungnya juga sih mereka masih inget sama saya, hahaha.. paling males soalnya kalo ngga ada temen, mati gaya. yah intinya sebelas ini penuh cobaan.
anyway.. mendekati akhir sebelas kali ini, secara, saat saya menulis, waktu sudah menunjukkan jam 00:10, hari ke 30. sedikit angin segar mampir menyapa saya yang sedang dibayang2i kegelisahan. rasanya duabelas nanti saya percaya bahwa saya akan mendapatkan semangat baru, lepas dari sebelas yang penuh cobaan. tak sabar rasanya menunggu duabelas yang hanya tinggal kurang dari 24 jam lagi. akhir2 ini pun hobi musik saya tersalurkan dengan baik. mulai rajin menekan tuts2 piano lagi, mulai rajin memetik senar2 gitar lagi, dan mulai rajin ngabsen ke tempat2 arcade buat main GuitarFreaks dan DrumMania. ya kalo lagi kepepet main drum sama gitarnya pake PS2 di kantor lah. pokoknya semua harus semangat. ya ya.. yang kita butuhkan cuma kejujuran, saya setuju sekali. sejujurnya saya tidak ingin terlalu berharap, karena kalau terbang terlalu tinggi jatuhnya pasti sakit sekali. been there done that. tapi kalau masih ada waktu, mungkin kita bisa bertemu di saat duabelas menuju satu.
[Bondan, 1 Desember 2006, 00:01 AM, sambil membayangkan kelanjutan cerita Brandon dan Amelie.]
Thursday, November 30, 2006
MAKI - モラトリアム (Moratorium)

(~スキャット) Slip out here (~スキャット) Please never end
どうでもいいような RADIOの声に耳を傾ける
泣いてもいいような 最悪の終わり方をした恋は
Love or Hate , Truth or lie じゃなく
単純にあなたが欲しかった
一生に一度 あるかないかの
モラトリアムで
この想い 傷みは
私を追い詰めているの
ノドが枯れる程に
今はもう 歌えない
苛立ちと 戸惑い
いつかは忘れる日が来るの?
未来(あした)は来なくてもいい
--------------------------------------------------
(~scat) Slip out here (~scat) Please never end
doudemo iiyouna RADIO no koe ni mimi wo katamukeru
naitemo iiyouna saiaku no owari kata wo sita koi wa
Love or Hate , Truth or lie zyanaku
tannzyunn ni anata ga hoshikatta
isshou ni ichido aru ka nai ka no
moratoriamu de
kono omoi itami wa
watashi wo oitsumete iruno
nodo ga kareru hodoni
ima wa mou utaenai
iradachi to tomadoi
itsuka wa wasureru hi ga kuruno?
ashita wa konakutemo ii
Now Playing on Guitar Freaks V2 & Drum Mania V2
Wednesday, November 29, 2006
the cant-live-without list
nokia 2115
hare gene ngga punya hape? hape deeeh.. (maksudnya chape deeeh..) hape nokia CDMA kesayangan yang contacts list nya udah diwariskan turun temurun dari hape2 gw yg sebelumnya. udah gitu nelpon sesama esia kan sejam cuma seribu, sms cuma gocap. wah gila. calling2 paradise deh. makan tuh kuping panas.
nec versa
ini nih temen paling setia yang gw punya. ngga pernah bandel, ngga pernah protes, selalu mempertemukan gw dengan temen2 gw di yahoo messenger, selalu setia membuka halaman website friendster buat gw, selalu dengerin kalo gw curhat atau nulis blog, selalu mainin musik yang gw suka, selalu tahu game apa yang pengen gw mainin, selalu nemenin gw kemana2, di rumah, di kantor, di tempat nongkrong, pokoknya kapan aja, kemana aja, dimana aja. definitely cant-live-without this stuff.
imac
kalo yang ini sumber mata pencaharian gw nih, hahaha.. tanpa imac ini gw ngga bisa kerja whatsoever. dari tools buat ngedit video, ngedit audio, bikin animasi, bikin soundtrack, sampe ngeburn ke DVD. semua kerjaan gw ya dari sini lah biang keladinya. mana layarnya juga segede gaban pula, 20 inch. wih, workspacenya lega gila. i really thank god i can finally found my dream job. i love my imac, i love my office, i love my job.
ipod
currently contains 50 GB ++ of my songs, video, and photo library. enjoying hours of my compiled playlists never been this comfortable. paling sering nemenin gw kalo lagi nyetir, pasang ipod di tape mobil, jadi suara keluar dari speaker mobil. lalu gw tutup kaca mobil rapet2, dan gw bisa nyanyi teriak2 sekeras2nya tanpa ada yg denger. cukup bagus untuk melampiaskan dan menghilangkan stress. it works.
green tea
this is very hard to let go. kalo sampe pabrik green tea botolan di dunia ini bangkrut semua, kiamat lah buat gw. kemana gw pergi, apapun yg gw makan, selalu minumnya kalo ngga green tea, ya teh biasa. tapi biasanya rata2 restoran2 gitu ada aja sih green tea (kalo istilah kerennya namanya ocha) either itu manis atau tawar, fine with me, tapi biasanya sih gw pesen atau beli yg manis. asli kalo baru ngambil dari kulkas, dinginnya seger mampusss.
lucky strike menthol lights
mentha piperita my boy! sad to say, but i cant-live-without it, well.. for now, mabye yes. karena setiap kali nyetir, gw harus merokok. kenapa? karena kalo merokok harus buka kaca. jadi kalo ngerokok dan buka kaca ngga mungkin nyalain AC. kesimpulannya karena ngga pake AC, mobil gw jadi lebih irit bensinnya. bagus sekali bukan? daripada gw keluar duit buat ekstra bensin beberapa liter, mending gw beliin rokok. hahaha! (tapi kalo dipikir2 kok agak2 goblog ya? kekeke..) but later on, actually i'm planning to quit smoking.. really! cuma dua hal yang gw disiplin dari dulu. gw ngga pernah pake duit dari bokap nyokap buat beli rokok, jadi gw pake duit gw sendiri. dan gw ngga pernah ngerokok di depan cewe gw, atau orang yg lagi gw deketin.
last but not least. friends. best friends. and a girlfriend. (idih nulis2 girlfriend, punya aja ngga.)
hare gene ngga punya hape? hape deeeh.. (maksudnya chape deeeh..) hape nokia CDMA kesayangan yang contacts list nya udah diwariskan turun temurun dari hape2 gw yg sebelumnya. udah gitu nelpon sesama esia kan sejam cuma seribu, sms cuma gocap. wah gila. calling2 paradise deh. makan tuh kuping panas.
nec versa
ini nih temen paling setia yang gw punya. ngga pernah bandel, ngga pernah protes, selalu mempertemukan gw dengan temen2 gw di yahoo messenger, selalu setia membuka halaman website friendster buat gw, selalu dengerin kalo gw curhat atau nulis blog, selalu mainin musik yang gw suka, selalu tahu game apa yang pengen gw mainin, selalu nemenin gw kemana2, di rumah, di kantor, di tempat nongkrong, pokoknya kapan aja, kemana aja, dimana aja. definitely cant-live-without this stuff.
imac
kalo yang ini sumber mata pencaharian gw nih, hahaha.. tanpa imac ini gw ngga bisa kerja whatsoever. dari tools buat ngedit video, ngedit audio, bikin animasi, bikin soundtrack, sampe ngeburn ke DVD. semua kerjaan gw ya dari sini lah biang keladinya. mana layarnya juga segede gaban pula, 20 inch. wih, workspacenya lega gila. i really thank god i can finally found my dream job. i love my imac, i love my office, i love my job.
ipod
currently contains 50 GB ++ of my songs, video, and photo library. enjoying hours of my compiled playlists never been this comfortable. paling sering nemenin gw kalo lagi nyetir, pasang ipod di tape mobil, jadi suara keluar dari speaker mobil. lalu gw tutup kaca mobil rapet2, dan gw bisa nyanyi teriak2 sekeras2nya tanpa ada yg denger. cukup bagus untuk melampiaskan dan menghilangkan stress. it works.
green tea
this is very hard to let go. kalo sampe pabrik green tea botolan di dunia ini bangkrut semua, kiamat lah buat gw. kemana gw pergi, apapun yg gw makan, selalu minumnya kalo ngga green tea, ya teh biasa. tapi biasanya rata2 restoran2 gitu ada aja sih green tea (kalo istilah kerennya namanya ocha) either itu manis atau tawar, fine with me, tapi biasanya sih gw pesen atau beli yg manis. asli kalo baru ngambil dari kulkas, dinginnya seger mampusss.
lucky strike menthol lights
mentha piperita my boy! sad to say, but i cant-live-without it, well.. for now, mabye yes. karena setiap kali nyetir, gw harus merokok. kenapa? karena kalo merokok harus buka kaca. jadi kalo ngerokok dan buka kaca ngga mungkin nyalain AC. kesimpulannya karena ngga pake AC, mobil gw jadi lebih irit bensinnya. bagus sekali bukan? daripada gw keluar duit buat ekstra bensin beberapa liter, mending gw beliin rokok. hahaha! (tapi kalo dipikir2 kok agak2 goblog ya? kekeke..) but later on, actually i'm planning to quit smoking.. really! cuma dua hal yang gw disiplin dari dulu. gw ngga pernah pake duit dari bokap nyokap buat beli rokok, jadi gw pake duit gw sendiri. dan gw ngga pernah ngerokok di depan cewe gw, atau orang yg lagi gw deketin.
last but not least. friends. best friends. and a girlfriend. (idih nulis2 girlfriend, punya aja ngga.)
Subscribe to:
Posts (Atom)

